Michael Burry: Pasar saham adalah 'kryptonite Trump'
Senin, 30 Maret 2026
JAKARTA - Investor kawakan Michael Burry menilai keputusan perang Iran oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump tidak semata didorong oleh kebijakan luar negeri, tetapi juga dipengaruhi oleh pergerakan pasar saham.Menurut laporan Yahoo Finance (29/3), Michael Burry menyebut pasar saham tidak hanya bereaksi terhadap konflik antara Amerika Serikat dan Iran, tetapi juga berpotensi memengaruhi seberapa cepat pemerintah AS mengakhiri perang tersebut.Burry, yang dikenal sebagai investor “Big Short”, bahkan menyebut pasar saham sebagai “kryptonite Trump”.
Ia menilai Donald Trump memiliki sensitivitas tinggi terhadap penurunan pasar, sehingga strategi dalam konflik Iran cenderung diarahkan untuk mencegah kejatuhan pasar saham yang lebih dalam.Dalam unggahan di Substack, Michael Burry menyatakan bahwa pendekatan Trump terhadap perang Iran pada dasarnya adalah keluar dari konflik sebelum pasar saham mengalami penurunan signifikan. Ia juga menyoroti dampak kemanusiaan dari konflik tersebut, dengan menyayangkan jatuhnya korban jiwa warga Amerika.Pandangan ini menjadi penting karena menunjukkan bahwa pasar saham kini tidak hanya berfungsi sebagai indikator ekonomi, tetapi juga dapat menjadi “pressure gauge” atau alat ukur tekanan terhadap kebijakan politik. Ketika pasar saham bereaksi negatif terhadap ketidakpastian, pemimpin politik berpotensi terdorong untuk meredakan konflik lebih cepat demi menjaga stabilitas.Indikasi keterkaitan antara pasar saham dan kebijakan perang Iran juga terlihat dari laporan mengenai transaksi besar yang terjadi sebelum keputusan Donald Trump untuk menunda atau melunakkan ancaman serangan. Meski demikian, Gedung Putih membantah adanya koordinasi atau pengaruh pasar terhadap keputusan tersebut, dikutip dari Yahoo Finance (29/3).Dampak perang Iran juga terasa langsung pada ekonomi global, terutama melalui kenaikan harga minyak dunia. Ancaman terhadap jalur distribusi minyak mendorong harga minyak mentah naik, yang kemudian berdampak pada kenaikan harga bensin dan memperpanjang tekanan inflasi.Presiden Federal Reserve Bank of Chicago, Austan Goolsbee, menegaskan bahwa situasi ini penuh ketidakpastian karena tidak ada kepastian mengenai perkembangan konflik di Timur Tengah maupun durasinya, dikutip dari Yahoo Finance (29/3).Pasar saham global pun mengalami volatilitas tinggi. Indeks S&P 500 sempat menembus level 7.000 pada akhir Januari, namun turun ke level 6.624,70 pada 18 Maret, mencerminkan kekhawatiran investor terhadap dampak perang Iran dan ketidakpastian ekonomi.Selain itu, harga minyak dunia menunjukkan pergerakan ekstrem dengan fluktuasi tajam, bahkan dalam satu hari perdagangan. Kondisi ini mencerminkan bagaimana pelaku pasar terus menyesuaikan ekspektasi mereka terhadap perkembangan konflik secara real-time.Pernyataan Michael Burry juga dinilai sejalan dengan cara Donald Trump memandang pasar saham sebagai indikator keberhasilan ekonomi. Dalam pidato State of the Union, Trump mengaitkan kinerja pasar saham dengan kesejahteraan masyarakat Amerika, dikutip dari Yahoo Finance (29/3). Hal ini memperkuat anggapan bahwa pergerakan pasar saham dapat menjadi tekanan politik yang signifikan.Sebagai investor kontrarian, Michael Burry dikenal mampu membaca kelemahan pasar sebelum orang lain. Ia meraih keuntungan besar dengan bertaruh melawan pasar perumahan sebelum krisis finansial 2008, sehingga pandangannya terhadap pasar saham dan perang Iran mendapat perhatian luas.Bagi masyarakat, dampak perang Iran tidak hanya terasa di level global, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari. Harga bensin di Amerika Serikat tercatat mencapai 3,983 dolar AS per 25 Maret. Survei Reuters/Ipsos juga menunjukkan 55% warga Amerika mengalami tekanan finansial akibat kenaikan harga bensin, dan 87% memperkirakan harga akan terus naik, dikutip dari Yahoo Finance (29/3).Kondisi ini membuat pengelolaan keuangan menjadi semakin penting. Masyarakat disarankan untuk menyiapkan anggaran tambahan menghadapi kenaikan harga, tidak mengambil keputusan impulsif terhadap investasi saat pasar saham bergejolak, serta memprioritaskan pelunasan utang berbunga tinggi.Selain itu, menjaga likuiditas juga menjadi langkah penting, terutama bagi mereka yang mendekati masa pensiun. Menyimpan dana cadangan di instrumen yang lebih aman dapat membantu menghindari kerugian saat pasar saham mengalami penurunan akibat ketidakpastian global.Situasi ini menegaskan bahwa perang Iran, pergerakan pasar saham, dan kondisi ekonomi masyarakat kini saling terhubung erat. Dalam era ketidakpastian global, pasar saham tidak lagi sekadar cerminan ekonomi, tetapi juga dapat menjadi faktor yang memengaruhi arah kebijakan politik. (SA)