AS kirim F-35C yang beroperasi khusus dari kapal induk, mengapa?

Senin, 30 Maret 2026

image

JAKARTA - Amerika Serikat meningkatkan kehadiran militernya di Timur Tengah dengan mengerahkan jet tempur F-35C milik Korps Marinir AS (USMC) dan kelompok kapal amfibi USS Tripoli. Langkah ini terjadi di tengah eskalasi konflik dengan Iran, tepat satu bulan setelah dimulainya Operasi Epic Fury oleh AS dan Operasi Roaring Lion oleh Israel, sebagaimana dilaporkan oleh The Aviationist (29/3).

Pengerahan ini ditandai dengan kedatangan Amphibious Ready Group (ARG) USS Tripoli (LHA-7) bersama 31st Marine Expeditionary Unit (MEU) ke wilayah tanggung jawab Komando Pusat AS (CENTCOM). Kelompok tersebut sebelumnya berlayar dari Samudra Pasifik dan sempat singgah di Diego Garcia untuk pengisian logistik sebelum melanjutkan misi operasional.

Dalam komposisinya, ARG terdiri dari USS Tripoli, USS San Diego, dan USS New Orleans. Namun, USS San Diego dilaporkan masih berada di Jepang, sehingga kemungkinan hanya USS Tripoli dan USS New Orleans yang melanjutkan perjalanan ke Timur Tengah (The Aviationist, 29/3).

Secara keseluruhan, pengerahan ini melibatkan sekitar 3.500 personel, termasuk 2.200 Marinir dari 31st MEU. Dari jumlah tersebut, sekitar 1.200 merupakan Ground Combat Element, sementara sisanya berasal dari Aviation Combat Element dan unit pendukung.

Kekuatan udara yang dibawa juga signifikan, mencakup MV-22B Osprey, CH-53E Super Stallion, UH-1Y Venom, dan MH-60S Seahawk untuk mobilitas pasukan. Selain itu, terdapat helikopter serang AH-1Z serta jet tempur F-35B Lightning II yang berfungsi sebagai dukungan udara jarak dekat.

Selain kekuatan berbasis laut, penguatan juga datang dari jet tempur F-35C USMC yang sebelumnya tiba di RAF Lakenheath, Inggris, dalam dua gelombang pada 24 dan 25 Maret. Delapan pesawat kemudian diberangkatkan kembali pada 26 dan 28 Maret dan diduga menuju Pangkalan Udara Ovda di Israel.

Dua F-35C lainnya masih tertahan di Inggris akibat kendala teknis. Salah satunya dilaporkan kehilangan probe pengisian bahan bakar saat melintasi Samudra Atlantik, sementara satu pesawat lain mengalami masalah teknis saat berada di darat di Lakenheath.

Sebelumnya, satu skuadron F-35C Marinir telah ditempatkan di kapal induk USS Abraham Lincoln (CVN-72) yang beroperasi di Timur Tengah. Namun, tambahan F-35C ini diperkirakan akan beroperasi dari pangkalan darat guna meningkatkan fleksibilitas operasi.

Pergerakan militer AS juga terlihat dari aktivitas kapal induk USS Gerald R. Ford (CVN-78) yang tiba di Split, Kroasia, pada 28 Maret setelah menjalani penugasan panjang sejak Juni 2025. Kapal ini sebelumnya singgah di Souda Bay, Yunani, untuk pengisian logistik, bahan bakar, serta perbaikan.

Insiden kebakaran sempat terjadi di kapal tersebut pada 12 Maret, yang berasal dari area laundry utama dan dipastikan tidak terkait pertempuran. Dalam proses pemulihan, lebih dari 100 tempat tidur dilaporkan rusak. Angkatan Laut AS bahkan mengambil sekitar 1.000 kasur dari USS John F. Kennedy (CVN-79) untuk mempercepat perbaikan (The Aviationist, 29/3).

Selain itu, pengerahan pesawat pengebom strategis juga meningkat signifikan. Tiga B-1B Lancer tiba di RAF Fairford pada 26 Maret, disusul dua B-52H Stratofortress pada 28 Maret.

Dengan tambahan tersebut, total penempatan mencapai 23 pesawat, terdiri dari 15 B-1 dan delapan B-52—menjadikannya salah satu pengerahan pengebom terbesar dalam beberapa waktu terakhir.

Operasi udara jarak jauh pun terus berlangsung, termasuk misi pesawat siluman B-2A Spirit yang melakukan penerbangan pulang-pergi dari Amerika Serikat ke Iran pada 27 Maret, serta misi B-1 yang diluncurkan dari Inggris.

Di sisi lain, pesawat serang A-10 Thunderbolt II juga mulai dikerahkan untuk memperkuat operasi di kawasan. Satu skuadron dilaporkan mendarat di Pangkalan Garda Nasional Udara Pease dan berpotensi melanjutkan perjalanan ke Lajes di Azores atau RAF Lakenheath sebagai titik transit menuju Timur Tengah.

A-10 yang telah lebih dulu ditempatkan bahkan dilaporkan digunakan untuk menyerang milisi yang didukung Iran di Irak (The Aviationist, 29/3).

Penguatan juga mencakup pesawat operasi khusus. Tiga AC-130J Ghostrider tercatat tiba di RAF Lakenheath pada 24 Maret setelah transit di Keflavik, Islandia, sebelum kembali diberangkatkan pada 27 Maret. Hingga kini, pesawat tersebut belum digunakan dalam operasi di Iran.

Sementara itu, jumlah pesawat MC-130J Commando II di RAF Mildenhall meningkat signifikan hingga sekitar 41 unit. Beberapa di antaranya tidak memiliki tanda identifikasi, termasuk nomor seri.

Terdapat pula sedikitnya 11 pesawat dengan modifikasi terbaru yang dilengkapi radar Silent Knight untuk misi terbang rendah. Setidaknya 15 pesawat telah diberangkatkan menuju Timur Tengah dalam beberapa hari terakhir.

Pengerahan besar-besaran ini mencerminkan strategi Amerika Serikat dalam meningkatkan tekanan militer terhadap Iran sekaligus memperkuat posisinya di Timur Tengah di tengah eskalasi konflik yang masih berlangsung.

>> Mengapa  yang dikirim versi  F-35C?

Perbedaan utama F-35A Lightning II dan F-35C Lightning II terletak pada fungsi dan desainnya. F-35A digunakan Angkatan Udara untuk operasi dari pangkalan darat, sedangkan F-35C dipakai Angkatan Laut dan Marinir untuk operasi dari kapal induk.

Secara fisik, F-35C memiliki sayap lebih besar dan bisa dilipat untuk stabilitas di laut, sementara F-35A lebih ringkas untuk efisiensi di runway. F-35C juga dilengkapi tailhook dan roda pendarat lebih kuat untuk mendarat di dek kapal, berbeda dengan F-35A yang mendarat secara konvensional.

Selain itu, F-35C memiliki jangkauan lebih jauh karena membawa bahan bakar lebih banyak dan dapat lepas landas dengan catapult kapal induk, sedangkan F-35A menggunakan lepas landas biasa dari landasan darat.

Peran utama F-35C Lightning II di kawasan Teluk adalah sebagai kekuatan udara berbasis kapal induk yang fleksibel dan sulit dideteksi. F-35C yang khusus di  desain beroperasi di kapal induk yang memungkinkan Amerika Serikat menjaga kehadiran militer tanpa bergantung penuh pada pangkalan darat di negara lain, sekaligus merespons cepat jika terjadi eskalasi konflik.

Selain itu, F-35C berfungsi sebagai pengumpul intelijen dan pengendali pertempuran di udara. Dengan sensor canggih dan kemampuan stealth, pesawat ini dapat memetakan pertahanan lawan, mendeteksi ancaman seperti radar atau rudal, lalu membagikan data tersebut ke aset militer lain—baik jet tempur, kapal perang, maupun sistem pertahanan.

Dalam konteks konflik dengan Iran, F-35C juga berperan sebagai deterrence (penangkal) sekaligus platform serangan presisi. Kehadirannya memberi sinyal kekuatan militer AS, namun jika diperlukan, pesawat ini mampu melaksanakan serangan cepat dan akurat terhadap target strategis dengan risiko lebih rendah dibanding pesawat non-siluman. (SA/MT)