Perpanjangan ultimatum Trump justru akibatkan harga minyak US$110

Senin, 30 Maret 2026

image

JAKARTA - Harga minyak dunia kembali melonjak tajam setelah minyak mentah Brent menembus level US$110 per barel, dipicu meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran.

Lonjakan ini terjadi di tengah penutupan Selat Hormuz yang menjadi jalur vital dalam pasar minyak global, sekaligus memicu kekhawatiran baru atas terganggunya pasokan energi dunia.Menurut laporan Oilprice.com (29/3), pergerakan harga minyak menunjukkan respons yang tidak biasa di pasar.

Perpanjangan tenggat awal selama lima hari yang diberikan oleh Presiden AS Donald Trump tidak memberikan dampak besar, namun ketika diperpanjang kembali menjadi 10 hari, harga Brent justru melonjak hingga kembali menembus US$110 per barel.Kondisi ini diperparah setelah Iran secara resmi menolak proposal perdamaian 15 poin dari AS dan mengajukan tuntutan balasan, sehingga memperkuat ekspektasi bahwa harga minyak dunia akan bertahan tinggi dalam waktu lebih lama.Trump juga memperpanjang batas waktu bagi Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz hingga 6 April, sembari menyatakan bahwa negosiasi dengan Teheran berjalan positif meskipun belum ada kesepakatan konkret yang tercapai.Di sisi pasokan, pasar minyak global menghadapi tekanan tambahan setelah serangan drone Ukraina merusak fasilitas ekspor utama Rusia di Ust-Luga dan Primorsk. Gangguan ini menyebabkan sekitar 40% ekspor minyak mentah Rusia melalui jalur laut sempat terhenti, memicu potensi gangguan pasokan yang lebih luas, menurut laporan Oilprice.com (29/3).Tekanan juga datang dari Timur Tengah. Produksi minyak Irak dilaporkan anjlok hampir 80% sejak awal konflik AS-Iran. Produksi dari ladang minyak selatan turun drastis menjadi sekitar 800.000 barel per hari, sementara total kapasitas produksi yang tidak beroperasi mencapai 3,5 juta barel per hari akibat keterbatasan kapasitas penyimpanan.Dari Asia, dinamika energi semakin kompleks. India dan Rusia tengah menjajaki kelanjutan ekspor LNG Rusia ke India di tengah krisis gas yang memburuk, dengan pengiriman terakhir terjadi pada April 2024. Namun, perusahaan energi Reliance Industries membantah telah membeli minyak Iran, sekaligus menepis laporan yang menyebutkan adanya pembelian kembali setelah terakhir dilakukan pada 2019, dikutip dari Oilprice.com (29/3).Dampak konflik juga dirasakan oleh raksasa energi global Shell yang mengonfirmasi kerusakan serius pada fasilitas gas-to-liquids Pearl di Qatar. Fasilitas berkapasitas 140.000 barel per hari tersebut terdampak serangan drone Iran pada 19 Maret, dengan unit Train 2 berkapasitas 70.000 barel per hari diperkirakan membutuhkan waktu hingga satu tahun untuk kembali beroperasi, dikutip dari Oilprice.com (29/3).Ketegangan geopolitik turut merembet ke sektor transportasi energi. Serangan drone laut terhadap kapal tanker di dekat Selat Bosphorus menjadi insiden ketiga yang melibatkan target Rusia di perairan Turki, yang pada akhirnya mendorong kenaikan biaya asuransi pengiriman minyak global.Di tengah kenaikan harga minyak dunia, peluang justru muncul di sektor hilir. Harga belerang di China melonjak di atas US$600 per ton metrik atau hampir tiga kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya, sehingga meningkatkan margin kilang sekitar 10%. Kondisi ini mendorong importir China untuk meningkatkan pembelian minyak berkadar sulfur tinggi seperti dari proyek TMX Kanada guna memaksimalkan produksi belerang.Sementara itu, di Amerika Serikat, perusahaan penyulingan Valero Energy telah kembali mengoperasikan kilang Port Arthur di Texas dengan kapasitas 380.000 barel per hari. Meski demikian, unit hydrotreater berkapasitas 47.000 barel per hari masih belum beroperasi akibat kerusakan dari ledakan sebelumnya, sehingga kapasitas produksi belum sepenuhnya pulih.Di kawasan Asia Timur, Jepang mulai meningkatkan penggunaan batu bara sebagai alternatif energi untuk menjaga stabilitas pasokan listrik. Hal ini terjadi setelah harga LNG, yang biasanya menyumbang sekitar 30% produksi listrik Jepang, mengalami lonjakan hingga dua kali lipat dalam beberapa bulan terakhir.Sebaliknya, permintaan LNG di China justru mengalami penurunan tajam. Impor diperkirakan turun 25% secara tahunan menjadi di bawah 3,7 juta ton bulan ini, yang merupakan level terendah sejak 2018, seiring tingginya harga dan berkurangnya pasokan dari Qatar.Sejumlah negara produsen mulai merespons kondisi harga minyak dunia yang tinggi dengan langkah strategis. Nigeria mempercepat proses persetujuan untuk mengaktifkan kembali sumur minyak yang tidak beroperasi guna meningkatkan produksi domestik secara maksimal.Indonesia juga mempertimbangkan pelonggaran kuota produksi nikel dan batu bara sebagai bagian dari strategi menjaga keseimbangan pasar komoditas global, terutama setelah pemangkasan kuota produksi 2026 sebesar 20% akibat kekhawatiran kelebihan pasokan.Korea Selatan turut mengambil langkah protektif dengan memberlakukan pembatasan ekspor nafta sejak 27 Maret demi menjaga ketahanan industri petrokimia domestik yang sangat bergantung pada pasokan dari Timur Tengah.Dengan berbagai tekanan dari sisi geopolitik, gangguan pasokan, serta dinamika permintaan global, tren kenaikan harga minyak dunia diperkirakan masih akan berlanjut, menjadikan pasar minyak global tetap dalam kondisi volatil dalam jangka pendek hingga menengah. (SA)