Morgan Stanley downgrade saham global, AS dipandang lebih aman?

Senin, 30 Maret 2026

image

JAKARTA  - Morgan Stanley menurunkan peringkat saham global dan meningkatkan alokasi ke kas serta obligasi pemerintah AS, karena investor menghindari risiko dan beralih ke aset safe haven akibat meningkatnya ketidakpastian yang berasal dari perang di Timur Tengah.

Seperti dikutip Reuters, Senin (30/3), perusahaan pialang Wall Street tersebut menurunkan rating saham global menjadi “equal weight” dari sebelumnya “overweight”, sementara menaikkan peringkat obligasi pemerintah AS (U.S. Treasuries) dan kas menjadi “overweight” dari sebelumnya “equal weight”.

“Ketidakpastian mengenai besaran dan durasi gangguan pasokan minyak membuat hasil (outlook) untuk aset berisiko menjadi semakin tidak seimbang,” kata para strategis Morgan Stanley dalam sebuah catatan pada hari Jumat.

Harga minyak Brent Crude Oil melonjak 59% bulan ini, kenaikan bulanan paling tajam, bahkan melampaui lonjakan saat Gulf War. Kontrak berjangka naik di atas $116 per barel pada hari Senin.

Perusahaan tersebut memperingatkan bahwa jika harga minyak bertahan di kisaran $150–$180 per barel, valuasi saham global bisa menyusut hampir 25%.

Morgan Stanley  juga mengurangi eksposur saham secara keseluruhan dengan menurunkan peringkat saham AS dan Jepang menjadi “equal weight” dari sebelumnya “overweight”.

“Kami mengubah menjadi equal weight untuk saham Jepang mengingat adanya risiko penurunan (tail risk) karena kami memperkirakan tekanan dari rantai pasok dan dampak resesi global dalam skenario di mana Selat Hormuz tetap tertutup lebih lama,” kata para strategis.

Meski demikian, Morgan Stanley tetap lebih menyukai saham AS dibandingkan wilayah lain, karena pertumbuhan laba per saham yang lebih tinggi.

Aset AS Jadi  Safe Gaven Lagi?

Perubahan ini sangat kontras dengan sebagian besar tahun lalu, ketika investor justru menghindari aset AS karena ketidakpastian terkait tarif dan memindahkan dana ke aset Eropa, Jepang, dan pasar negara berkembang.

Arus dana ke saham dan obligasi AS kini telah melampaui wilayah lain sejak konflik Timur Tengah dimulai bulan lalu, dengan investor “kembali melihat aset AS sebagai pasar yang lebih defensif,” kata Morgan Stanley.

Dalam kondisi guncangan pasokan minyak, obligasi pemerintah AS menawarkan diversifikasi yang lebih baik karena negara tersebut tidak terlalu bergantung pada impor energi dibandingkan Eropa, tambah para strategis.