Trump ingin ambil minyak Iran, minyak AS tembus US$100
Selasa, 31 Maret 2026

LONDON - Harga minyak naik pada Senin, dengan minyak mentah Amerika Serikat ditutup di atas US$100 per barel untuk pertama kalinya sejak Juli 2022.
Setelah pernyataan Presiden Donald Trump dan serangan kelompok Houthi yang didukung Iran terhadap Israel meningkatkan kekhawatiran eskalasi konflik di Timur Tengah.Seperti dikutip Cnn, Minyak acuan AS West Texas Intermediate (WTI) naik 3,25% dan ditutup di US$102,88 per barel, level penutupan tertinggi sejak Juli 2022.Sementara itu, minyak Brent sebagai acuan global naik 0,19% menjadi US$112,78 per barel, meski sempat melampaui US$116 pada perdagangan sebelumnya.Minyak AS kembali berada di atas US$100 per barel saat perang dengan Iran memasuki minggu kelima.Pelaku pasar masih khawatir konflik dapat berlangsung tanpa kepastian akhir sehingga berpotensi menimbulkan gangguan berkepanjangan pada pasar minyak global.Dalam wawancara yang diterbitkan Minggu, Trump mengatakan ingin “mengambil minyak Iran” dan membuka kemungkinan menguasai Pulau Kharg, yang menangani sekitar 90% ekspor minyak negara tersebut.Ia membandingkan langkah tersebut dengan operasi AS di Venezuela yang bertujuan mengendalikan industri minyak dalam jangka panjang.Dalam unggahan di Truth Social pada Senin pagi, Trump juga menyatakan Amerika Serikat dapat menghancurkan pembangkit listrik, sumur minyak, dan Pulau Kharg jika kesepakatan tidak tercapai dan Selat Hormuz tidak segera dibuka kembali.
Kekhawatiran pasar semakin meningkat setelah militan Houthi di Yaman yang didukung Iran ikut terlibat konflik pada akhir pekan dengan meluncurkan serangan terhadap Israel.
Kelompok tersebut berpotensi menutup Selat Bab al-Mandeb, jalur penting yang menghubungkan Laut Merah dengan rute pelayaran global.
Di sisi lain, Amerika Serikat mengirim ribuan pasukan tambahan ke Timur Tengah dalam sepekan terakhir.
Ketua parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menuduh Washington diam-diam merencanakan invasi darat, sembari menyatakan pasukan Teheran siap menghadapi kemungkinan tersebut.
Sepanjang Maret, harga minyak melonjak lebih dari 50% setelah perang AS-Israel dengan Iran pecah pada akhir Februari.
Sebelum konflik, Brent diperdagangkan di sekitar US$73 per barel, sementara Selat Hormuz yang biasanya dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia menjadi sumber kekhawatiran utama pasar.
Brent naik hampir 55% sepanjang bulan ini dan berpotensi mencatat kenaikan bulanan terbesar sejak pencatatan FactSet dimulai pada 1989. Sementara itu, WTI naik 53,5% dan menuju kenaikan bulanan terbesar sejak Mei 2020.
Meski konflik semakin memanas, Trump mengatakan negosiasi dengan Iran berjalan “sangat baik” dan Teheran disebut telah menyetujui sebagian besar dari 15 tuntutan Washington untuk mengakhiri perang, termasuk komitmen tidak mengembangkan senjata nuklir, menyerahkan uranium yang diperkaya tinggi, serta membuka kembali Selat Hormuz. (DK)