OECD pangkas proyeksi ekonomi RI, melambat jadi 4,8%
Selasa, 31 Maret 2026

JAKARTA - Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi sejumlah negara, termasuk Indonesia.
Dalam laporan terbaru yang disampaikan pekan lalu, institusi yang beranggotakan 38 negara ini, menetapkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada level 4,8%.
Proyeksi itu lebih rendah 0,31 poin persentase dari realisasi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2025, yang mencapai 5,11% secara tahunan.
Revisi atas prospek pertumbuhan ekonomi itu, menurut laporan OECD, seiring dengan inflasi utama Indonesia yang diperkirakan naik 0,3 poin persentase menjadi 3,4%. Hal ini lebih tinggi dari proyeksi awal, yang diperkirakan pada kisaran 3,1%.
OECD mengakui bahwa Indonesia, sebagaimana negara lain di kawasan Eropa dan Timur Tengah, memiliki resiliensi pertumbuhan di atas perkiraan.
Namun kesepakatan tarif impor dengan Amerika Serikat, kondisi terkini pasar tenaga kerja, kebijakan fiskal, dan volatilitas nilai tukar mata uang, menjadi tantangan pertumbuhan ekonomi sejumlah negara termasuk Indonesia.
Meskipun demikian, OECD tetap mempertahankan proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia di level 2,9% untuk 2026.
Sementara proyeksi pertumbuhan ekonomi G20 turun 0,1 poin persentase menjadi 3%, Korea turun 0,4 poin persentase menjadi 0,4%, Inggris turun 0,5 poin persentase jadi 0,7%, dan China tetap di level 4,4%. (KR)