Obligasi tertekan, ancaman inflasi dari perang dorong imbal hasil naik
Selasa, 31 Maret 2026

LONDON - Obligasi pemerintah global menuju penurunan bulanan terdalam dalam beberapa tahun terakhir seiring meningkatnya kekhawatiran bahwa perang berkepanjangan di Timur Tengah akan memicu lonjakan inflasi sekaligus menekan pertumbuhan ekonomi.Seperti dikutip Reuters, konflik AS-Israel dengan Iran yang memasuki bulan kedua telah memicu lonjakan tajam harga minyak dan gas akibat gangguan pasokan energi terbesar dalam sejarah.Kondisi tersebut meningkatkan ekspektasi kenaikan harga di berbagai sektor ekonomi, sehingga investor melepas obligasi dan mendorong imbal hasil naik di pasar pendapatan tetap utama seperti AS, Eropa, Jepang, dan wilayah lain.Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor dua tahun, yang bergerak berlawanan arah dengan harga dan mencerminkan ekspektasi suku bunga Federal Reserve, diperkirakan naik 45 basis poin sepanjang bulan ini, kenaikan terbesar sejak Oktober 2024. Pada Senin, yield tercatat turun 8,6 basis poin ke level 3,83%.Perubahan ini menunjukkan investor mulai meninggalkan asumsi sebelumnya bahwa The Fed akan memangkas suku bunga tahun ini.Kontrak berjangka suku bunga AS kini tidak lagi memperkirakan penurunan suku bunga, bahkan mulai memasukkan kemungkinan kenaikan suku bunga acuan.Sementara itu, yield obligasi Treasury tenor 10 tahun naik hampir 40 basis poin sepanjang bulan ke kisaran 4,39%, meski sempat melemah pada perdagangan Senin.Di Jepang, yield obligasi melonjak ke level tertinggi dalam tiga dekade pada Senin dan tercatat naik 13 basis poin sepanjang bulan.Meski demikian, obligasi AS sempat menguat kembali setelah penurunan pekan lalu, mencerminkan kekhawatiran sebagian investor bahwa dampak perang terhadap pertumbuhan ekonomi bisa lebih besar dibanding dampaknya terhadap inflasi yang selama ini menjadi fokus utama pasar.Direktur Fixed Income Bryn Mawr Trust, Jim Barnes, menilai The Fed akan menghadapi dilema kebijakan. “The Fed kemungkinan sulit menaikkan suku bunga hanya karena pertumbuhan ekonomi melambat, tetapi juga sulit menurunkan suku bunga karena inflasi masih sekitar 3% dan berpotensi naik,” ujarnya.Harga minyak tetap bertahan di atas 100 dolar AS per barel dan berpotensi mencatat kenaikan persentase bulanan terbesar setidaknya sejak 1988.
Pergerakan harga obligasi di Eropa bahkan lebih tajam, dengan pasar kini memperkirakan dua hingga tiga kenaikan suku bunga oleh Bank Sentral Eropa (ECB) dan Bank of England tahun ini. Proyeksi tersebut berbalik drastis dibanding sebelum perang, ketika pasar memperkirakan dua kali pemangkasan suku bunga oleh BoE.
Yield obligasi Inggris tenor dua tahun naik 98 basis poin bulan ini, terbesar sejak gejolak pasar pada 2022 saat masa jabatan singkat Perdana Menteri Liz Truss. Yield 10 tahun Inggris juga meningkat 70 basis poin.
Di Jerman, yield dua tahun melonjak 61 basis poin sepanjang bulan, sedangkan yield 10 tahun naik hampir 40 basis poin dan sempat menyentuh level tertinggi 15 tahun di 3,13% pekan lalu.
Pergerakan di Italia, yang dinilai lebih rentan terhadap guncangan energi dibanding negara zona euro lain, hampir sebanding dengan Inggris. Yield dua tahun naik 85 basis poin dan yield 10 tahun meningkat 78 basis poin sepanjang bulan.
Namun, yield obligasi zona Euro sempat turun tipis pada Senin, menandakan pasar mulai mempertimbangkan risiko perlambatan pertumbuhan ekonomi.
Ekonom Senior Berenberg, Felix Schmidt, mengatakan bank sentral menghadapi situasi sulit dalam kondisi stagflasi. Mereka harus menyeimbangkan risiko inflasi tanpa memperburuk pelemahan ekonomi akibat kenaikan suku bunga yang terlalu agresif. (DK)
Terkait: Jerome Powell beri kelas di Harvard, The Fed pilih 'wait and see'?