Raksasa teknologi China perang bakar uang pasarkan chatbot AI
Selasa, 31 Maret 2026
BEIJING – Perbedaan mendasar kini mewarnai strategi pengembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence atau AI) global. Ketika perusahaan Amerika Serikat (AS) sibuk berinvestasi untuk membangun teknologi tercanggih, raksasa teknologi China bersama sejumlah perusahaan rintisan (startups) terkemuka seperti Moonshot AI dan DeepSeek justru lebih fokus membakar uang agar masyarakat menggunakan aplikasi mereka setiap saat.
Lanskap persaingan yang sangat sengit ini memaksa perusahaan raksasa untuk membuang banyak dana ke pasar demi memenangkan hati pelanggan dan membuktikan bahwa AI chatbot sangat berguna dalam kehidupan sehari-hari, terutama untuk berbelanja, alih-alih sekadar digunakan untuk mencari informasi.
Seperti dikutip npr (30/03/2026), bank investasi Morgan Stanley mengestimasi bahwa deretan aplikasi teratas telah menghabiskan dana gabungan lebih dari US$1,1 miliar untuk promosi selama liburan Tahun Baru Imlek, momen di mana masyarakat secara tradisional membagikan amplop merah berisi uang tunai.
Alibaba sendiri mengalokasikan lebih dari US$430 juta untuk promosi liburan, sementara Tencent dan Baidu membagikan jutaan dolar dalam bentuk kupon dan hadiah.
Taktik promosi ekstrem inilah yang memikat konsumen seperti Li Hao, seorang kurir pengiriman berusia 19 tahun yang merupakan pengguna setia chatbot populer milik ByteDance, Doubao.
Namun, selama liburan Imlek, Li beralih mencoba Qwen milik Alibaba semata-mata karena aplikasi tersebut membagikan teh susu (milk tea) gratis jika dipesan melalui chatbot.
"Saya mencobanya dan mendapat teh susu. Setelah itu, saya tidak menggunakannya lagi," ungkap Li, yang menjadi cerminan nyata dari garis depan perang chatbot di China di mana minuman gratis tersebut sengaja dirancang agar pengguna terbiasa memerintah AI untuk melakukan pembelian.
Taktik integrasi transaksi ini difasilitasi oleh ekosistem niaga-el (e-commerce) China yang sangat maju. Dengan Qwen, memesan teh susu semudah mengetik perintah langsung di chatbot; aplikasi langsung memberikan rekomendasi toko terdekat, dan jika pengguna memakai platform Alipay, Qwen sudah mengetahui lokasi pengiriman sekaligus memproses pembayaran satu ketukan (one-tap payment).
Di sisi lain, Doubao telah diintegrasikan layaknya fitur pesan langsung (DM) di dalam Douyin (aplikasi TikTok versi China), sementara Yuanbao milik Tencent disematkan langsung ke dalam platform perpesanan terpopuler WeChat dan terhubung dengan WeChat Pay.
Tidak seperti aplikasi pesan antar makanan seperti DoorDash atau UberEats, chatbot ini dirancang untuk menangani segala jenis transaksi, mulai dari membeli tiket pesawat, memesan kendaraan, hingga membuat janji temu dengan dokter.
Kyle Chan, pengamat teknologi China dari Brookings Institution, menegaskan bahwa Alibaba ingin menjadikan Qwen sebagai aplikasi serba bisa yang baru.
"Mereka melihat model AI sebagai titik awal antarmuka (interface) dengan segala hal lain yang Anda lakukan di dunia daring, dan bahkan mungkin, sampai tingkat tertentu, di dunia nyata," jelas Chan.
Perang promosi ini mengingatkan George Chen, analis teknologi di Asia Group Hong Kong, pada persaingan berdarah antara platform pembayaran Alibaba dan Tencent satu dekade lalu yang pada akhirnya sukses melahirkan ekosistem aplikasi super (super apps) di China.
"Sejarah sedang berulang," ujar Chen, seraya meyakini bahwa persaingan ini berdampak positif bagi inovasi. Promosi Imlek tersebut terbukti sempat memicu kekacauan pesanan di sejumlah toko ritel akibat lonjakan yang tak terkendali, sekaligus mendongkrak jumlah pengguna ke rekor tertinggi.
Firma riset QuestMobile melaporkan bahwa lebih dari 73,5 juta orang menggunakan Qwen pada 7 Februari saat promosi berlangsung, meskipun Alibaba belum merilis angka resmi. Doubao milik ByteDance juga mencetak rekor dengan melampaui 144 juta pengguna harian usai bermitra dengan stasiun TV pemerintah untuk siaran gala Imlek tahunan.
Meski demikian, mempertahankan loyalitas pelanggan tetap menjadi tantangan berat. Laporan daring menunjukkan bahwa penggunaan harian telah kembali anjlok setelah hiruk-pikuk liburan berakhir, terbukti dari konsumen seperti Li Hao yang kembali menggunakan Doubao sebagai AI pilihannya segera setelah ia mendapatkan teh susu gratisnya. (SF)