VC kripto tinggalkan Web3 beralih ke stablecoin, mengapa?

Selasa, 31 Maret 2026

image

WASHINGTON - Suvashree Ghosh dan Matt Haldane menilai daya tarik utama investor ventura di sektor aset digital kini bergeser ke infrastruktur keuangan berbasis stablecoin, bukan lagi hype Web3.Jika dulu jargon “blockchain, bukan Bitcoin” digadang mampu merevolusi internet di luar sektor finansial, tren pendanaan terbaru justru menunjukkan uang tunai tetap menjadi fokus utama.Seperti dikutip Reuters, minat investasi kripto memang mereda sejak era euforia Web3 dan NFT di awal 2020-an. Namun, segmen pembayaran berbasis stablecoin justru menarik arus modal baru.Akuisisi Bridge senilai US$1,1 miliar oleh Stripe tahun lalu menjadi sinyal awal lembaga keuangan tradisional mulai menawarkan opsi pembayaran stablecoin.Setelah itu, sejumlah startup seperti ARQ, KAST, dan RedotPay memperoleh pendanaan untuk mengembangkan jaringan pembayaran lintas negara dan layanan finansial berbasis stablecoin. Ketertarikan ini semakin terlihat lewat akuisisi BVNK oleh Mastercard senilai US$1,8 miliar.Menurut Rob Hadick, general partner Dragonfly Capital, startup terkait stablecoin kini menjadi sektor terpanas bagi investor ventura karena menawarkan salah satu kasus penggunaan kripto yang benar-benar diadopsi secara luas di dunia nyata.Data Architect Partners menunjukkan pendanaan perusahaan pembayaran kripto melonjak menjadi US$2,6 miliar pada 2025, melampaui total tiga tahun sebelumnya.Secara keseluruhan, pembiayaan privat industri kripto naik menjadi US$20,4 miliar pada 2025 dari sekitar US$13 miliar pada 2024, meski masih di bawah puncak US$27,6 miliar pada 2022.Sebagian besar pendanaan kini terkonsentrasi pada infrastruktur investasi dan perdagangan serta broker dan bursa, yang menegaskan dominasi aplikasi finansial.Sebaliknya, pendanaan untuk gim blockchain, bagian penting dari booming Web3 dan NFT, turun drastis, dari US$3,76 miliar pada 2022 menjadi tidak lagi tercatat sebagai kategori terpisah pada 2025.Pendanaan aplikasi terdesentralisasi (dApps) juga merosot dari US$5,2 miliar pada 2022 menjadi hanya US$864 juta pada 2025.Stablecoin memperkuat peran blockchain sebagai infrastruktur keuangan. Token yang nilainya dipatok pada aset dasar, umumnya dolar AS, mengalami lonjakan popularitas, didorong kebijakan pro-kripto di AS.Volume transaksi stablecoin melonjak 72% menjadi US$33 triliun pada 2025 menurut Artemis Analytics.Dua stablecoin terbesar saat ini adalah USDT milik Tether dan USDC yang dikembangkan Circle.Meski saham Circle sempat turun tajam karena kekhawatiran regulasi dan persaingan, daya tarik stablecoin tetap kuat karena mampu membuat perpindahan dana lebih cepat dan efisien.CEO Nium, Prajit Nanu, menilai stablecoin berpotensi menjadi lapisan infrastruktur penting berikutnya dalam sistem pembayaran global karena memungkinkan transfer nilai lintas negara secara real time tanpa kebutuhan modal besar seperti sistem tradisional. (DK)