Serangan Iran ke Smelter teluk ganggu rantai pasok aluminium AS

Selasa, 31 Maret 2026

image

WASHINGTON - Serangan Iran terhadap dua smelter aluminium terbesar di Timur Tengah pada akhir pekan lalu memicu gangguan serius pada rantai pasok logam strategis yang banyak diimpor Amerika Serikat.Analis menilai aksi tersebut memperbesar risiko kekurangan pasokan aluminium bagi ekonomi terbesar dunia yang produksinya di dalam negeri masih terbatas.Seperti dikutip Reuters, sebelumnya, dampak konflik Iran lebih banyak dirasakan pada hambatan pengiriman aluminium dan bahan baku melalui Selat Hormuz yang sempat terganggu.Namun, serangan langsung ke fasilitas produksi di kawasan Teluk mengubah risiko dari sekadar kendala logistik menjadi ancaman terhadap kapasitas produksi global.Emirates Global Aluminium melaporkan fasilitas Al Taweelah di Abu Dhabi yang memiliki kapasitas sekitar 1,5 juta ton per tahun mengalami kerusakan signifikan akibat serangan.Pada hari yang sama, pabrik Aluminium Bahrain berkapasitas sekitar 1,6 juta ton per tahun juga menjadi target. Hingga kini, kedua perusahaan belum memberikan pembaruan terkait kondisi operasionalnya.

Lonjakan risiko pasokan mendorong harga aluminium di London Metal Exchange naik sekitar 6% ke level 3.492 dolar AS per ton, mendekati posisi tertinggi dalam empat tahun.

Analis menilai hilangnya kapasitas produksi hingga 3 juta ton sulit digantikan dalam waktu singkat sehingga memperbesar tekanan harga di pasar global.

Ketergantungan Amerika Serikat pada impor aluminium memperparah dampak gangguan tersebut.

Data U.S. Geological Survey menunjukkan sekitar 60% kebutuhan aluminium AS dipenuhi dari impor, sementara produksi domestik hanya sekitar 660.000 ton pada 2025, jauh lebih kecil dibandingkan kapasitas satu smelter besar di kawasan Teluk.

Meskipun Iran menyebut fasilitas yang diserang memiliki keterkaitan dengan industri militer AS, sejumlah analis meragukan klaim tersebut.

Mereka menilai keterkaitan langsung dengan sektor pertahanan tidak signifikan, meski gangguan pasokan tetap berpotensi memicu tekanan terhadap industri global dan memperbesar ketidakpastian ekonomi. (DK)