Perang Iran dalam sebulan rugikan negara Arab hingga US$194 miliar

Rabu, 01 April 2026

image

NEW YORK - Perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran selama satu bulan telah memberikan dampak besar terhadap perekonomian negara-negara Arab, dengan jutaan orang diperkirakan jatuh ke dalam kemiskinan, menurut laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Laporan terbaru dari UN Development Programme (UNDP) menyebutkan bahwa produk domestik bruto (PDB) kawasan diperkirakan menyusut sekitar 3,7 hingga 6 persen, setara dengan kerugian antara US$120 miliar hingga US$194 miliar.

Seperti dikutip Aljazeera, asisten Sekretaris Jenderal PBB sekaligus Direktur Biro Regional UNDP untuk Negara Arab, Abdallah Al Dardari, menyatakan sekitar 3,7 juta pekerjaan akan hilang, sementara hampir 4 juta orang berpotensi jatuh di bawah garis kemiskinan.

Ia menilai konflik ini menyoroti rapuhnya struktur ekonomi di kawasan Arab.

Proyeksi tersebut didasarkan pada skenario konflik singkat namun intens selama empat minggu.

Dampaknya diperkirakan bisa lebih besar jika perang berlangsung lebih lama, terutama karena serangan Iran terhadap infrastruktur energi di Teluk serta gangguan ekspor minyak dan gas melalui Selat Hormuz.

Kenaikan harga minyak dunia, dengan Brent melonjak lebih dari 4,7 persen hingga di atas US$118 per barel, turut memperburuk situasi.

Risiko pada jalur pelayaran strategis juga berdampak pada inflasi, arus perdagangan, dan rantai pasok global, yang pada akhirnya menekan perekonomian kawasan yang saling terhubung.

Peningkatan kemiskinan diperkirakan paling terasa di kawasan Levant serta negara-negara rentan seperti Sudan dan Yaman.

Sementara itu, Lebanon menjadi salah satu negara yang paling terdampak, terutama setelah konflik meluas akibat keterlibatan Hezbollah, yang memicu serangan udara, kerusakan infrastruktur, dan pengungsian besar-besaran.

Al Dardari berharap konflik dapat segera berakhir. “Kami berharap pertempuran berhenti secepatnya, karena setiap hari keterlambatan akan membawa dampak negatif bagi perekonomian global,” ujarnya. (DK)