Malaysia naikkan outlook 2026 meski hadapi risiko perang Iran
Rabu, 01 April 2026

JAKARTA - Bank sentral Malaysia menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi 2026 menjadi 4%-5%, lebih tinggi dari target sebelumnya 4%-4,5%, meskipun menghadapi risiko perang Iran yang menekan pasar global.
Seperti dikutip SCMP, penambahan proyeksi oleh Bank Negara Malaysia ini dinilai sebagai representasi ekonomi yang lebih kuat pada paruh kedua 2025, serta tingginya daya tahan permintaan domestik.
“Malaysia memasuki 2026 dari posisi yang kuat untuk menghadapi tantangan,” ujar Gubernur Abdul Rasheed Ghaffour, menegaskan proyeksi terbaru telah memperhitungkan dampak konflik Iran.
Harga minyak mentah mendekati US$120 per barel setelah Iran membatasi lalu lintas di Selat Hormuz, jalur utama distribusi minyak dan gas Asia.
Meski demikian, bank sentral menilai Malaysia relatif lebih siap menghadapi tekanan dibanding negara kawasan lain. Reformasi subsidi dan pertumbuhan ekonomi 5,2% pada 2025 menjadi penopang utama.
BNM memperkirakan konsumsi domestik tetap stabil. Permintaan ekspor elektronik, terutama semikonduktor terkait kecerdasan buatan, serta pemulihan pariwisata akan menjaga momentum pertumbuhan.
Bank sentral menetapkan asumsi harga minyak rata-rata US$77 per barel, sesuai kisaran US$70- 90 per barel. Jika konflik berlangsung tiga hingga enam bulan, harga diperkirakan naik ke US$90- 110 per barel, namun masih dalam batas yang dapat dikelola.
Risiko itu berpotensi meningkat jika perang berlarut lebih dari enam bulan dan mendorong harga melampaui US$110 per barel. “Jika situasi memburuk, tentu dalam kondisi seperti itu akan ada revisi. Kami juga melakukan hal yang sama tahun lalu terkait ketidakpastian tarif,” kata Abdul Rasheed.
Sebelumnya, pada Juli 2025, BNM memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi akibat gangguan perdagangan global yang dipicu kebijakan tarif Presiden AS, Donald Trump.
Untuk 2026, inflasi Malaysia diperkirakan tetap terkendali di kisaran 1,5%–2,5%. Subsidi bahan bakar yang lebih terarah dinilai mampu meredam dampak kenaikan harga energi sekaligus menjaga defisit anggaran di level 3,5% dari PDB.
Malaysia juga termasuk negara yang tetap mendapat akses ke Selat Hormuz, meski jalur tersebut kini berada dalam tekanan akibat konflik dan berisiko terhadap pengiriman energi global. (DH/KR)