Bos Cinema XXI berkisah lewati krisis moneter 1998
Rabu, 01 April 2026

JAKARTA - Direktur Utama PT Nusantara Sejahtera Raya Tbk (CNMA), Suryo Suherman, mengandalkan pendekatan konservatif dalam mengelola Cinema XXI, operator bioskop terbesar di Asia Tenggara berdasarkan jumlah layar.
Dikutip dari Business Times, Suryo menilai pengalaman krisis keuangan Asia 1998 menjadi titik penting dalam membentuk strategi bisnis perusahaan. Saat itu, perusahaan harus memangkas skala usaha hingga sekitar setengah untuk bertahan di tengah tekanan ekonomi dan beban utang.
“Saya tidak optimistis secara membabi buta,” katanya. “Saya selalu bertanya, bagaimana jika? Karena kami sudah pernah melihat skenario terburuk benar-benar terjadi.”
Didirikan pada 1987 oleh Benny Suherman melalui merek Studio 21, Cinema XXI berkembang pesat sebelum krisis. Namun, industri bioskop nasional sempat merosot tajam dari lebih dari 2.000 layar menjadi sekitar 300 layar.
Pemulihan berlangsung bertahap hingga stabil pada awal 2000-an. Sejak itu, perusahaan memilih pertumbuhan organik dan menghindari ekspansi agresif.
Pada 2017, GIC dari Singapura masuk sebagai investor dengan mengakuisisi 25% saham senilai US$256 juta. Dukungan ini memperkuat ekspansi dan menjadi langkah menuju penawaran umum perdana saham pada 2023 yang menghimpun Rp2,25 triliun.
Saat ini, Cinema XXI mengoperasikan sekitar 261 bioskop dengan pangsa pasar sekitar 70% di Indonesia. “Kami berjanji untuk tidak lagi mengambil utang berlebihan,” ujar Suherman. “Utang berarti bunga, dan saat krisis, tekanan itu bisa mengganggu pengambilan keputusan.”
Perusahaan kini menambah sekitar 30–40 layar per tahun atau sekitar 3% dari total jaringan, seiring pemulihan industri pascapandemi. Dari sisi industri, jumlah penonton film di Indonesia mencapai 80 juta dan diproyeksikan melampaui 100 juta pada 2026.
Kontribusi pendapatan juga berubah. Jika pada 1990-an sekitar 90% berasal dari tiket, kini penjualan makanan menyumbang porsi lebih besar, setara sekitar 54% dari pendapatan tiket. Di sisi konten, dominasi film asing juga berkurang. Saat ini, sekitar 60% pasar diisi film lokal yang dinilai lebih mampu menarik penonton domestik.
Seperti diberitakan IDNFinancials.com sebelumnya, CNMA mencatatkan laba bersih Rp704,8 miliar pada 2025, turun 3,3% dibandingkan tahun sebelumnya. Pendapatan CNMA masih tumbuh 2,6% menjadi Rp5,86 triliun pada 2025. Namun, beban dan biaya operasional naik 3,4% menjadi Rp4,8 triliun, sehingga menekan kinerja laba usaha. (DH)