BI bikin instrumen operasi moneter valas dalam yuan dan yen

Rabu, 26 November 2025

image

JAKARTA - Bank Indonesia (BI) menyiapkan perluasan instrumen operasi moneter valuta asing (valas) dengan instrumen spot dan swap dalam valuta yuan China (CNY) dan yen Jepang (JPY) terhadap rupiah.

Hal ini merupakan bagian dari langkah penguatan strategi operasi moneter pro-market dalam mendukung stabilisasi nilai tukar rupiah dan memperkuat efektivitas transmisi kebijakan moneter.

Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti dalam konferensi pers hasil RDG BI bulan November 2025 di Jakarta, Rabu (19/11), menjelaskan bahwa upaya stabilisasi yang selama ini dilakukan melalui intervensi di pasar off-shore serta triple intervention belum cukup.

“Jadi apa yang kemudian dikembangkan oleh kami adalah lebih sifatnya memang struktural, yaitu bagaimana kami memperdalam pasar valas di domestik,” kata Destry.

Selain untuk mendukung operasi moneter, bank sentral juga mendorong pendalaman pasar uang dan pasar valas domestik dalam transaksi yuan China dan yen Jepang terhadap rupiah guna memperkuat pemanfaatan local currency transaction (LCT).

Destry mencatat bahwa transaksi LCT dengan China terus meningkat dan saat ini mencapai sekitar US$1 miliar per bulan. Namun, perbankan masih menghadapi keterbatasan pasokan yuan China (renminbi/RMB) di pasar domestik.

Dia melanjutkan, untuk menjawab kebutuhan tersebut, BI menyiapkan perluasan instrumen, baik untuk operasi moneter maupun transaksi pasar, dalam transaksi yuan China terhadap rupiah.

Langkah ini diharapkan mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS, karena selama ini pelaku pasar harus membeli dolar terlebih dahulu sebelum menukarkannya menjadi yuan.

Destry mengungkapkan bahwa sejauh ini, perkembangan LCT menunjukkan pertumbuhan signifikan. Hingga Oktober, nilai transaksinya telah meningkat 1,6 kali lipat dibandingkan realisasi sepanjang tahun lalu. Jumlah pesertanya juga melonjak menjadi 15.473, dari sebelumnya 5.053 pada 2024.

“Oleh karena itu, kami mengantisipasi dengan membuka untuk pasar renminbi dan juga untuk pasar yuan di domestik,” kata Destry.

Ia mengingatkan bahwa kondisi global saat ini masih dipenuhi ketidakpastian, dengan indeks dolar AS (DXY) yang cenderung menguat dan imbal hasil obligasi pemerintah AS (US Treasury) tenor panjang tetap tinggi.

Situasi ini mendorong risk-off di pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, sehingga arus masuk modal ke emerging market juga terbatas.

"Dampak tekanan global ini terlihat pada nilai tukar rupiah dan beberapa mata uang regional yang melemah sejak Oktober."

Sejak awal Oktober hingga saat ini, rupiah terdepresiasi sebesar 0,48 persen. Mata uang negara tetangga juga mengalami pelemahan, seperti peso Filipina 1,34 persen, baht Thailand 0,21 persen, dan won Korea Selatan 4,25 persen. (DH)