Pemerintah utang lagi, bid-to-cover ratio lelang obligasi di bawah 2

Rabu, 01 April 2026

image

JAKARTA - Departemen Keuangan utang lagi dengan cara melelang sembilan seri Surat Utang Negara (SUN) yang digelar pemerintah pada 31 Maret 2026 dengan mayoritas bid-to-cover ratio (BCR) di bawah 2.

Dengan myoritas BCR di bawah 2, artinya permintaan investor tidak terlalu kuat dibanding jumlah yang ditawarkan, sehingga pemerintah harus mengakomodasi permintaan yield yang lebih tinggi dari investor.Berdasarkan siaran pers Direktorat Jenderal Pembiayaan dan Pengelolaan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan, Selasa (31/3), hal ini mencerminkan minat investor yang masih moderat cenderung hati-hati, di tengah kondisi pasar yang belum sepenuhnya kondusif.Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Pembiayaan dan Pengelolaan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan menyerap dana sebesar Rp40 triliun dari total penawaran masuk Rp58,22 triliun.Sebagai informasi, BCR menunjukkan perbandingan antara jumlah penawaran dengan dana yang dimenangkan, semakin tinggi angkanya, semakin kuat permintaan investor.Dari hasil lelang, terlihat bahwa minat investor tidak merata di semua tenor.Seri jangka pendek justru banyak diminati, sementara obligasi tenor panjang menunjukkan permintaan yang relatif tipis.Seri dengan permintaan paling kuat adalah SPN01260502 (penerbitan baru) yang mencatat BCR sekitar 4,75.Tingginya rasio ini menunjukkan besarnya minat investor terhadap instrumen jangka pendek, dengan pemerintah menyerap Rp1 triliun dari total penawaran Rp4,75 triliun, pada yield 4,90% dan jatuh tempo 2 Mei 2026.Selain itu, seri FR0106 (pembukaan kembali) juga mencatat minat cukup kuat dengan BCR sekitar 2,89.Pemerintah menyerap Rp1,7 triliun dari penawaran Rp4,91 triliun, dengan yield rata-rata 6,93934% dan jatuh tempo 15 Agustus 2040.Sementara itu, Seri FR0108 misalnya mencatat BCR sekitar 1,65 dengan penyerapan Rp7,4 triliun dari penawaran Rp12,22 triliun (yield 6,86968%, jatuh tempo 15 April 2036).Namun demikian, sebagian besar seri SUN lainnya menunjukkan permintaan yang relatif tipis dengan BCR di kisaran 1,1 hingga 1,3. Rinciannya sebagai berikut:

    • FR0109: BCR 1,19 (Rp16,7 triliun dari Rp19,93 triliun)    • FR0107: BCR 1,32 (Rp2,4 triliun dari Rp3,16 triliun)    • FR0102: BCR 1,27 (Rp1,5 triliun dari Rp1,91 triliun)    • FR0105: BCR 1,14 (Rp3,15 triliun dari Rp3,59 triliun)    • SPN12270401: BCR 1,32 (Rp5 triliun dari Rp6,6 triliun)

Bahkan, seri tenor pendek SPN12260702 hanya mencatat BCR sekitar 1,00, yang berarti hampir tidak mengalami kelebihan permintaan (oversubscription), meski tetap terserap penuh sebesar Rp1,15 triliun. (DK)