Goldman Sachs tetap prediksi emas tembus US$5.400, kenapa?

Kamis, 02 April 2026

image

JAKARTA - Goldman Sachs tetap mempertahankan proyeksinya bahwa harga emas akan mencapai US$5.400 per troi ons pada akhir 2026, didorong oleh ekspektasi penurunan suku bunga oleh The Fed, normalisasi posisi spekulatif, serta berlanjutnya pembelian oleh bank sentral.

Analis bank tersebut, Lina Thomas dan Daan Struyven, mempertahankan pandangan ini meskipun harga emas sempat turun sekitar 15% ke kisaran US$4.580 sejak konflik di Timur Tengah dimulai.

Seperti dikutip Investing, penurunan ini dinilai terjadi karena kombinasi beberapa faktor, terutama karakter konflik itu sendiri.

Gangguan pasokan energi akibat perang meningkatkan kekhawatiran inflasi dan membuat pasar menghapus ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed tahun ini.

Dalam kondisi tersebut, Goldman memperkirakan nilai wajar emas saat ini berada di sekitar US$4.550 per troi ons, dengan asumsi strategi lindung nilai makro sebelum konflik masih berlaku.

Tingginya permintaan opsi call sebelumnya juga membuat harga emas rentan.

Goldman sebelumnya mencatat bahwa posisi tersebut dapat memperbesar koreksi harga, bahkan jika hanya terjadi pelemahan ringan di pasar saham, dengan kisaran US$4.700 sebagai batas bawah pergerakan tersebut.

Kini setelah tekanan jual mereda, posisi spekulatif bersih di Comex telah turun signifikan dan tekanan dari opsi call sebagian besar telah hilang.

Hal ini membuat kondisi pasar menjadi lebih “bersih” dan dianggap sebagai titik masuk yang lebih menarik.

Para analis juga menolak anggapan bahwa emas gagal berfungsi sebagai aset safe haven atau pelindung inflasi. Mereka menilai bahwa kinerja emas bergantung pada jenis tekanan inflasi yang terjadi.

Dalam kondisi stagflasi yang dipicu gangguan pasokan seperti saat ini, komoditas cenderung lebih diuntungkan dibanding emas.

Sebaliknya, emas biasanya berkinerja lebih baik ketika risiko berasal dari menurunnya kredibilitas institusi, misalnya keraguan terhadap kemampuan bank sentral mengendalikan inflasi.

Mereka menambahkan bahwa dalam episode gangguan pasokan, emas sering kali tertinggal di awal karena inflasi yang meningkat dapat mendorong kebijakan moneter lebih ketat, menaikkan imbal hasil, serta meningkatkan biaya peluang memegang emas.

Terkait isu penjualan emas oleh bank sentral, Goldman menilai kecil kemungkinan negara-negara Teluk mengikuti langkah Turki yang menjual cadangannya.

Negara-negara tersebut memiliki porsi emas yang lebih kecil dan cenderung mengelola mata uangnya dengan patokan dolar AS, sehingga lebih mungkin menjual obligasi AS dibanding emas.

Ke depan, proyeksi Goldman didukung oleh tiga faktor utama:

  • Normalisasi posisi spekulatif
  • Pemangkasan suku bunga The Fed sekitar 50 basis poin
  • Peningkatan kembali pembelian emas oleh bank sentral hingga sekitar 60 ton per bulan

Meski demikian, risiko penurunan tetap ada. Gangguan berkepanjangan di Selat Hormuz atau pelemahan lebih lanjut pasar saham dapat mendorong harga emas turun hingga sekitar US$3.800 dalam skenario ekstrem.

Sebaliknya, jika ketegangan geopolitik meningkat dan mendorong diversifikasi dari aset Barat, harga emas berpotensi naik lebih tinggi, bahkan mendekati US$5.700 hingga US$6.100.

Goldman juga menyoroti bahwa alokasi emas dalam portofolio investor swasta di Barat masih sangat kecil, sehingga masih ada ruang besar untuk kenaikan harga jika sentimen berubah. (DK)