Output manufaktur RI turun akibat perang Timur Tengah

Kamis, 02 April 2026

image

JAKARTA - S&P Global Market Intelligence mencatat PMI Manufaktur Indonesia mencatat perang di Timur Tengah selama lebih dari 1 bulan, mendorong penurunan output dan produksi pesanan baru, serta pengiriman pesanan terhambat.

PMI Manufaktur Indonesia untuk periode Maret 2026 berada di level 50,1 menurut S&P Global, turun dari level 53,8 pada Februari.

Ekonom S&P Global Market Intelligence, Usamah Bhatti, mengatakan penurunan output manufaktur pada Maret 2026 menjadi level terendah dalam 9 bulan.

Sementara itu penurunan permintaan, kata Usamah dalam keterangan resminya, juga dikaitkan dengan penurunan tajam pada permintaan ekspor baru, yang turun dengan laju paling tajam sejak November 2025.

"Menurut laporan anggota panel, salah satu faktor utama di balik penurunan pada akhir triwulan pertama adalah pecahnya perang di Timur Tengah,” jelas Usamah pada Rabu (1/3) kemarin.

Ia menambahkan bahwa sejumlah bukti telah menunjukkan perang di Timur Tengah, membuat sektor manufaktur menghadapi tekanan harga dan pasokan bahan baku. Hal ini kemudian berdampak pada produksi dan permintaan, serta mendorong inflasi biaya ke level tertinggi dalam dua tahun.

“Selain itu, melemahnya produksi dan kebutuhan kapasitas mendorong perusahaan memasuki fase pengetatan, dengan menurunkan aktivitas pembelian dan tingkat ketenagakerjaan,” jelas Usamah.

Meskipun demikian, laporan S&P Global Market Intelligence menyebut perusahaan manufaktur tetap yakin bahwa output akan meningkat pada 2026. Meskipun data hingga Maret kemarin sektor manufaktur dinilai masih rentan terhadap perang, terutama dari sisi harga dan pasokan. (KR)