Pendapatan Gudang Garam turun 9,41% tertekan pasar lokal hingga ekspor

Kamis, 02 April 2026

image

JAKARTA – PT Gudang Garam Tbk (GGRM), emiten dari industri tembakau dengan total aset terbesar di Indonesia, menghadapi penurunan pendapatan yang mencapai 9,41% secara tahunan, menjadi sebesar Rp89,3 triliun pada 2025.

Namun penurunan pendapatan GGRM, diimbangi dengan biaya pokok pendapatan yang lebih rendah 9,96% secara tahunan, menjadi Rp80,3 triliun pada 2025.

Pada 2025, GGRM juga mencatat lonjakan pendapatan lain-lain sebesar 150% menjadi Rp467,8 miliar. Lonjakan ini turut mengompensasi tekanan pendapatan, yang kemudian diikuti oleh efisiensi beban usaha 13,8% dan beban bunga 44,7% secara tahunan.

Dengan lonjakan pendapatan lain-lain dan efisiensi tersebut, laba bersih GGRM pun mencapai Rp1,55 triliun. Perolehan ini meningkat 58,7% secara tahunan atau dari Rp980,8 miliar di 2024.

Berdasarkan wilayah, 98,72% pendapatan GGRM mengandalkan pasar domestik pada 2025. Sementara sebanyak 1,28% merupakan pendapatan dari pasar ekspor.

Namun pendapatan GGRM dari dalam maupun luar negeri, menghadapi tekanan pada 2025. Total ekspor perseroan turun 13,14% secara tahunan menjadi Rp1,14 triliun. Sementara pendapatan dari pasar domestik turun 9,36% menjadi Rp88,22 triliun.

Berdasarkan segmen produk, pendapatan GGRM dari Sigaret Kretek Mesin (SKM) turun 8,32% secara tahunan menjadi Rp79,4 triliun pada 2025, sedangkan pendapatan Sigaret Kretek Tangan (SKT) turun 15,28% menjadi Rp7,9 triliun.

Adapun pendapatan dari sejumlah bisnis pendukung seperti rokok klobot GGRM turun 22,5% menjadi Rp7,71 miliar, pendapatan dari produk kertas karton turun 8,92% menjadi Rp798 miliar, serta dari bisnis konstruksi ambles 47,7% menjadi Rp820 miliar.

Dari sisi neraca, total aset GGRM menyusut 11,41% menjadi Rp75,25 triliun. Namun dengan penurunan liabilitas 44,92% menjadi Rp12,6 triliun, total ekuitas perseroan meningkat 1,06% menjadi Rp62,5 triliun di akhir 2025. (KR)