Goldman Sachs yakin reli harga emas berulang di 2026, mengapa?
Kamis, 27 November 2025

JAKARTA – Goldman Sachs, bank investasi multinasional asal Amerika Serikat (AS), membeberkan sejumlah faktor yang bakal mendorong reli kenaikan harga emas pada 2026 mendatang.
Daan Struyven, Co-Head of Global Commodities Research Goldman Sachs, mengatakan target harga emas pada 2026 yang berada di level US$4.900 per troi ons, mencerminkan potensi kenaikan hampir 20% dari harga saat ini.
Menurut data Intercontinental Exchange (ICE), harga emas di pasar spot telah naik 0,78% ke level US$4.162 per troi ons pada perdagangan Rabu (27/11) kemarin. Sementara kenaikan sejak awal tahun telah mencapai 57,75%.
“Kenaikan pada tahun depan memang tidak terlalu tinggi seperti tahun ini, karena pada tahun ini harga sudah naik hampir 60%,” jelas Struyven, dalam sesi wawancara bersama Bloomberg TV.
Namun ada dua faktor utama, kata Struyven, yang akan membawa emas mengulang reli kenaikan tersebut.
Pertama yaitu pembelian cadangan emas oleh bank sentral dari berbagai negara, sejak pembekuan cadangan emas Rusia pada 2022. Kemudian disusul oleh pemangkasan suku bunga Federal Reserve (The Fed).
Struyven mengakui bahwa penguatan dolar dalam sebulan terakhir memang membuat investor berhati-hati dalam mendiversifikasi aset mereka.
Namun Struyven melihat saat ini pasar ETF berbasis emas global—yang menjadi pendorong reli kenaikan harga emas tahun ini, ukurannya masih terbilang kecil dibandingkan nilai pasar Treasury Amerika Serikat (AS).
“Jadi hanya dengan langkah diversifikasi kecil dari pasar obligasi ke logam mulia, maka harga emas akan naik signifikan,” jelas Struyven.
Seperti disampaikan IDNFinancials.com sebelumnya, harga emas sempat mencapai rekor tertingginya dalam sejarah di US$4.355 per troi ons pada Oktober 2025.
Namun hingga Kamis kemarin, harga emas masih terkonsolidasi sekitar 19% di bawah rekor tertinggi itu. (KR)