Unilever jual bisnis makanan ke McCormick senilai US$15,7 miliar

Kamis, 02 April 2026

image

JAKARTA - Langkah PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) menjual sebagian besar bisnis makanannya kepada McCormick senilai US$15,7 miliar menegaskan perubahan besar di industri barang konsumsi global.Seperti dikutip CNBC, Perusahaan-perusahaan besar kini mulai meninggalkan model konglomerasi raksasa yang mengandalkan banyak kategori produk, dan beralih ke strategi fokus pada segmen yang dinilai paling kuat dan menguntungkan.Perubahan ini terjadi seiring memudarnya lonjakan harga pascapandemi serta melambatnya pertumbuhan di pasar besar seperti China.Para pelaku industri kini menilai ukuran perusahaan tidak lagi menjadi faktor utama, melainkan relevansi merek di mata konsumen serta efisiensi penggunaan modal.Kerja sama Unilever dengan McCormick mencerminkan tren baru yang menitikberatkan dominasi pada kategori spesifik dibanding sekadar memiliki portofolio merek yang beragam namun tidak saling terkait.Konsultan Ernst & Young menilai banyak perusahaan barang konsumsi menghadapi risiko kehilangan relevansi jika tidak beradaptasi dengan perubahan preferensi pasar.Unit makanan yang dilepas Unilever mencakup merek seperti Hellmann’s dan Marmite.Ke depan, perusahaan Inggris tersebut akan memperkuat fokus pada segmen perawatan kesehatan dan kecantikan dengan merek seperti Dove, Dermalogica, dan TRESemmé yang dinilai memiliki pertumbuhan lebih tinggi dan margin lebih besar.Sebelumnya, Unilever juga telah memisahkan bisnis es krimnya menjadi entitas mandiri melalui merek Magnum.Langkah serupa juga dilakukan Nestlé yang berencana melepas bisnis es krim guna fokus pada merek inti dengan kinerja paling kuat.Di industri yang sama, konsolidasi besar juga terjadi melalui kerja sama Kimberly-Clark dan Kenvue yang menggabungkan merek seperti Huggies, Kleenex, Band-Aid, dan Tylenol untuk memperkuat bisnis dengan margin lebih tinggi.Selain itu, otoritas Eropa juga telah menyetujui akuisisi senilai US$36 miliar oleh Mars terhadap Kellanova, yang bertujuan membentuk raksasa makanan ringan global.Para analis menilai strategi baru ini menitikberatkan pada “hak untuk menang” dalam kategori tertentu, di mana perusahaan harus memiliki posisi dominan agar mampu mempertahankan pertumbuhan dan daya saing di pasar yang semakin ketat. (DK)