Rupiah bisa anjlok ke Rp17.500 jika Perang AS-Iran tak mereda

Kamis, 02 April 2026

image

JAKARTA – Seiring Perang Amerika Serikat dan Iran berlangsung, indeks dolar Amerika Serikat (AS) atau DXY menguat 2,05% sejak awal tahun, bahkan melonjak 2,6% sejak eskalasi pertama pada 28 Februari 2026.

DXY bahkan telah naik 4,6% dari titik terendahnya tahun ini pada 27 Januari 2026 lalu di level 95,8 ke level 100,2 pada 6.30 WIB, Kamis (2/4).

Hal ini menyebabkan mata uang lain di dunia terdepresiasi, termasuk rupiah yang melemah hingga 1,8% sejak awal tahun, konsisten berada di atas Rp16.500. Rupiah bahkan dua kali menembus level Rp17.000 pada Maret 2026.

Menurut Arifin Hasudungan, Senior Analyst PT Reliance Sekuritas Indonesia Tbk (RELI), depresiasi rupiah bisa terus terjadi jika konflik di Timur Tengah terus berlangsung, bahkan menyentuh level Rp17.500 di tahun 2026.

“Kami melihat ke depan, rupiah akan terdepresiasi, ya. Kalau kami punya target depresiasi rupiah terhadap dolar, tahun ini, puncaknya di level Rp17.500,” ujar Arifin kepada IDNFinancials.com, Kamis (2/4).

Namun, Arifin berharap bahwa rupiah tidak menyentuh level tersebut, akibat implikasinya yang buruk terhadap pasar saham domestik.

Reliance Sekuritas sendiri telah men-downgrade target IHSG tahun ini ke 7.046, meski EPS diproyeksikan tetap tumbuh 8,8%, dengan PER di level 12,13.

“Worst case kami, level IHSG bisa menyentuh 5.648. Game changer-nya di Perang Timur Tengah. Apabila mereda, implikasinya positif, khususnya bagi Asia atau Indonesia, baik ekonomi maupun market,” tambahnya.

Di sisi lain, harga komoditas justru melonjak, termasuk minyak dan gas, timah, dan nikel. Namun, emas diproyeksikan akan melemah, karena “investor cenderung lari ke instrumen dolar,” jelas Arifin. (ZH)