Larry Fink ingatkan risiko resesi global, energi jadi pemicu utama

Sabtu, 04 April 2026

image

JAKARTA - CEO BlackRock, Larry Fink, memperingatkan ekonomi global berisiko masuk resesi jika konflik Iran berlangsung lebih dari satu tahun.

“Jika perang berlarut-larut selama setahun, harga energi akan semakin naik dan ekonomi global akan memasuki resesi,” demikian diungkapkan dalam wawancara dengan EL PAÍS.

Fink, seperti dikutip dari EL PAÍS, menilai arah ekonomi sangat bergantung pada hasil konflik. Jika kawasan menjadi lebih stabil dan Iran terbuka, harga minyak bisa turun.

Sebaliknya, jika ketegangan berlanjut, harga energi berpotensi naik lebih tinggi dan menekan pasar keuangan global. Ia menegaskan penurunan pasar saham dalam skenario tersebut bukan karena valuasi, melainkan perubahan kondisi makro.

Di tengah ketidakpastian, Fink tetap mendorong pendekatan investasi jangka panjang. Ia menilai fokus berlebihan pada gejolak jangka pendek merugikan masyarakat dan memperlebar kesenjangan, terutama bagi kelompok yang tidak berinvestasi.

Fink juga menyoroti perubahan arah globalisasi menuju model yang lebih mandiri. Negara-negara diperkirakan akan mengurangi ketergantungan pada rantai pasok global, meski langkah ini lebih mahal dalam jangka pendek.

Selain itu, ia mengingatkan dampak besar kecerdasan buatan (AI) terhadap pasar tenaga kerja dan ketimpangan. Menurutnya, dunia belum cukup siap menghadapi perubahan tersebut, sementara kebutuhan investasi di sektor energi dan infrastruktur akan meningkat.

Dalam konteks Eropa, Fink menyebut Spanyol sebagai salah satu titik terang pertumbuhan. Ia menilai negara tersebut memiliki perusahaan global, infrastruktur kuat, dan ekonomi yang relatif dinamis.

BlackRock sendiri terus memperluas bisnis, termasuk di aset alternatif dan proyek global seperti rekonstruksi Ukraina. Fink menegaskan fokus perusahaan tetap pada solusi investasi jangka panjang di tengah ketidakpastian geopolitik.(DH)