Emirates Global Alumunium: Butuh setahun untuk bisa produksi lagi

Sabtu, 04 April 2026

image

JAKARTA – Emirates Global Aluminium (EGA) menyatakan bahwa pemulihan penuh produksi aluminium primer di smelter Al Taweelah di Uni Emirat Arab yang terkena serangan Iran akhir bulan lalu dapat memakan waktu hingga satu tahun.

Fasilitas di Al Taweelah dievakuasi sepenuhnya dan memasuki penghentian darurat setelah serangan 28 Maret terhadap Kawasan Ekonomi Khalifa di Abu Dhabi, kata perusahaan dalam pernyataannya.

“Untuk melanjutkan operasi di smelter, EGA harus memperbaiki kerusakan infrastruktur dan secara bertahap memulihkan setiap sel reduksi,” kata EGA.

“Indikasi awal menunjukkan bahwa pemulihan penuh produksi aluminium primer dapat memakan waktu hingga 12 bulan.”

EGA menyatakan bahwa kilang Al Taweelah, yang memproduksi alumina (bahan baku aluminium), serta pabrik daur ulang Al Taweelah dapat memulai kembali sebagian produksi lebih awal, tergantung pada hasil akhir penilaian kerusakan di lokasi.

Kekhawatiran terhadap dampak konflik di Timur Tengah terhadap pasokan mendorong kenaikan harga aluminium bulanan terbesar dalam hampir dua tahun pada Maret.

Harga aluminium acuan tiga bulan di London Metal Exchange naik 10,4% sepanjang bulan tersebut dan sempat menyentuh level tertinggi dalam hampir empat tahun, yakni 3.546,50 dolar AS per ton metrik pada 12 Maret.

Produsen aluminium di kawasan Teluk, yang biasanya menyumbang sekitar 9% dari pasokan global, tidak dapat mengirim logam ke pasar dunia melalui jalur normal sejak penutupan efektif jalur pelayaran Selat Hormuz setelah serangan AS-Israel terhadap Iran yang dimulai pada 28 Februari.

>> Profil EGA

Seperti diketahui smelter aluminium Al Taweelah milik EGA memproduksi 1,6 juta ton logam cetak pada 2025. Perusahaan ini juga memiliki kilang alumina yang berdekatan di Al Taweelah, yang tahun lalu memproduksi 2,4 juta ton bahan baku aluminium tersebut.

Meski bukan yang terbesar di dunia EGA menyumbang sekitar 4% produksi aluminium primer dunia. Memang bukan dominan seperti China, tapi cukup besar untuk mempengaruhi pasar, terutama ketika produksinya terganggu.

Karena aluminium adalah komoditas industri (otomotif, konstruksi, elektronik), gangguan beberapa persen saja bisa mendorong harga naik, seperti yang terlihat saat konflik meningkat.

Dari sisi geografis, EGA berada di kawasan Teluk yang sangat strategis dan dekat dengan jalur perdagangan utama seperti Strait of Hormuz. Artinya, jika akses distribusinya ke pasar global (Asia, Eropa, dll) terganggu, efeknya langsung terasa ke pasokan dunia. (YS)