Kerugian WIKA bengkak, kekayaan menyusut sisa Rp1,68 triliun

Minggu, 05 April 2026

image

JAKARTA – PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA) kembali mengalami kerugian sebesar Rp9,7 triliun pada 2025, lebih tinggi 4,28 kali lipat dari kerugian pada tahun sebelumnya yang mencapai Rp2,26 triliun.

Meningkatnya kerugian emiten konstruksi milik pemerintah Indonesia ini, terjadi seiring kinerja pendapatan yang turun 30,7% secara tahunan menjadi Rp13,32 triliun pada 2025.

Selain itu, penghasilan lain-lain WIKA turun 78,7% secara tahunan menjadi Rp1,5 triliun dan bagian rugi ventura bersama naik lebih dari 2 kali lipat menjadi Rp1,44 triliun pada 2025.

Corporate Secretary WIKA, Ngatemin, menyampaikan bahwa perseroan tetap fokus meningkatkan kinerja operasi dan memperbaiki struktur modalnya, dengan 8 stream penyehatan yang telah berlangsung dalam beberapa tahun terakhir.

“Di tahun ini, perseroan akan terus berupaya melakukan restrukturisasi komprehensif untuk menurunkan beban keuangan atas penugasan yang dikerjakan dan divestasi atas aset yang belum dapat memberikan laba bagi perseroan,” jelas Ngatemin, dalam keterangan yang disampaikan kepada Bursa Efek Indonesia (BEI).

Dari sisi liabilitas, WIKA telah menurunkan utang usahanya sebesar 29,5% menjadi Rp1,79 triliun pada 2025. Utang berbunga perseroan juga diturunkan 5,9% menjadi Rp2,08 triliun.

Total liabilitas WIKA secara konsolidasi pada 2025 pun turun 6,07% secara tahunan, menjadi Rp48,4 triliun.

Namun dengan penurunan total aset sebesar 20,99% menjadi Rp50,1 triliun, jumlah ekuitas atau kekayaan bersih WIKA pun menyusut dan tersisa Rp1,68 triliun di akhir 2025.

Saat ini pemerintah Indonesia mengendalikan 90,11% saham WIKA lewat PT Danantara Asset Management. Investor publik memiliki 8,96% saham, dengan kepemilikan masing-masing di bawah 5%. Sisanya dimiliki oleh sejumlah direktur perseroan.

Harga saham WIKA parkir di level Rp204 per lembar selama lebih dari 1 tahun, sejak BEI menyuspensi perdagangan sahamnya pada Februari 2025. (KR)