Krisis Timur Tengah angkat harga pangan dan tekan konsumen
Senin, 06 April 2026

JAKARTA - Harga pangan global meningkat pada Maret seiring kenaikan biaya energi dan logistik akibat konflik di Timur Tengah, berdasarkan laporan Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO).
Indeks harga komoditas pangan naik 2,4% secara bulanan, melanjutkan kenaikan pada Februari yang menjadi yang pertama dalam lima bulan. Indeks ini mencakup harga sereal, gula, daging, produk susu, dan minyak nabati.
Dikutip theguardian, kenaikan terbesar terjadi pada minyak nabati dan gula, masing-masing naik 5% dan 7%. Tekanan harga dipicu lonjakan biaya bahan bakar, pupuk, dan listrik yang meningkatkan ongkos distribusi dan produksi pangan.
Gangguan pada jalur logistik turut memperburuk kondisi. Sekitar sepertiga pasokan pupuk global melewati Selat Hormuz yang kini terganggu akibat konflik. PBB memperkirakan harga pangan global dapat naik rata-rata 15% hingga 20% pada paruh pertama 2026 jika krisis berlanjut.
Laporan tersebut menyatakan, “Indeks harga di seluruh kelompok komoditas sereal, daging, produk susu, minyak nabati, dan gula naik pada tingkat yang berbeda-beda, yang mencerminkan tidak hanya fundamental pasar yang mendasarinya tetapi juga respons terhadap harga energi yang lebih tinggi yang terkait dengan eskalasi konflik di Timur Dekat.”
Harga gandum global naik 4,3% pada Maret, dipicu kondisi tanaman yang melemah di Amerika Serikat dan penurunan penanaman di Australia akibat mahalnya pupuk. Kenaikan ini tertahan oleh kondisi panen yang lebih baik di Eropa serta persaingan ekspor.
Di Inggris, tekanan harga mulai terasa di tingkat produsen. Food and Drink Federation memperkirakan harga pangan naik setidaknya 9% hingga akhir 2026, naik tajam dari proyeksi sebelumnya 3,2%.
Proyeksi tersebut bergantung pada asumsi pemulihan distribusi energi dan pembukaan kembali jalur pelayaran dalam waktu dekat, yang hingga kini belum pasti.
Produsen pangan di Inggris mulai menghadapi kenaikan biaya, terutama pada sektor hortikultura dan produk susu. Kenaikan harga energi mendorong biaya operasional, termasuk pemanasan rumah kaca.
Pemerintah Inggris mulai merespons. Menteri Keuangan Rachel Reeves bertemu dengan sejumlah peritel besar untuk membahas langkah menekan biaya hidup dan menjaga stabilitas rantai pasok.
Survei Bank of England menunjukkan perusahaan memperkirakan kenaikan harga sebesar 3,7% dalam 12 bulan ke depan, naik dari 3,4% pada Februari. Ekspektasi inflasi juga meningkat dari 3% menjadi 3,5%, menandakan tekanan harga masih berlanjut.(DH)