The Fed soroti risiko ganda: Inflasi naik, ekonomi melambat

Senin, 06 April 2026

image

JAKARTA - Presiden Federal Reserve Bank of New York, John Williams, menilai lonjakan harga energi belum langsung tercermin dalam perekonomian AS. Ia menyebut dampaknya akan muncul bertahap dalam beberapa bulan ke depan.

Dikutip reuters, Williams mengatakan perang di Timur Tengah meningkatkan ketidakpastian dan memperbesar dua risiko utama, yakni tekanan inflasi dan perlambatan ekonomi.

“Ketidakpastian dan risikonya telah meningkat, tetapi peningkatan tersebut terjadi di kedua arah: baik risiko inflasi yang lebih tinggi maupun risiko perlambatan ekonomi yang lebih besar,” tulisnya dalam wawancara dengan Fox Business.

Ia menegaskan The Fed berupaya menjaga keseimbangan antara dua risiko tersebut. “Kami ingin menyeimbangkan risiko-risiko tersebut,” katanya. “Saya pikir kebijakan moneter, dengan tindakan yang kita ambil tahun lalu dan posisi kita saat ini, sebenarnya berada pada posisi yang baik untuk menjaga agar risiko-risiko tersebut tetap seimbang.”

Menurutnya, lonjakan harga energi menjadi dampak paling nyata dari konflik saat ini, dengan potensi mendorong inflasi dan menekan konsumsi. Namun, efek tersebut belum tercermin dalam data ekonomi terbaru.

Williams menekankan bahwa transmisi kenaikan harga energi ke inflasi inti membutuhkan waktu. “Biasanya memakan waktu berbulan-bulan atau mungkin setahun” untuk memengaruhi harga lain dalam perekonomian. Di sisi tenaga kerja, ia melihat kondisi masih stabil. Tingkat perekrutan dan pemutusan kerja tetap rendah, sementara pengangguran berada di level yang terjaga.

Williams juga menilai risiko dari sektor kredit swasta belum mengancam stabilitas sistem keuangan. Ia menyebut perkembangan sektor tersebut tetap dipantau, namun “Saya tidak melihatnya sebagai risiko sistemik bagi sistem kita saat ini.”(DH)