Potensi BREN dan DSSA keluar MSCI imbas konsentrasi kepemilikan saham
Senin, 06 April 2026

JAKARTA – Pengungkapan daftar emiten dengan konsentrasi kepemilikan saham tinggi atau High Shareholding Consentration (HSC), berpotensi mengubah aliran modal di Bursa Efek Indonesia (BEI) dalam beberapa pekan ke depan.
Dua di antara sembilan emiten yang masuk daftar tersebut, merupakan emiten yang terkait dengan konglomerasi bisnis di Indonesia yaitu PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) milik Grup Bario dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) milik Grup Sinar Mas.
Kedua saham ini telah masuk sebagai konstituen indeks global MSCI Global Standard sejak 2025, bersama dengan 17 saham lain dari Indonesia.
Head of Investment Specialist Maybank Sekuritas, Fath Aliansyah Budiman, mengatakan isu konsentrasi kepemilikan saham tinggi memang telah menjadi sorotan pengelola indeks global MSCI, bahkan sebelum mereka mengajukan proposal untuk meningkatkan transparansi pasar modal Indonesia di awal Januari 2026.
“Untuk BREN dan DSSA bukan suatu hal yang mengejutkan,” kata Fath, dalam pemaparan yang disampaikan pagi ini. “MSCI sudah melihat hal seperti ini dan sudah jadi perhatian sejak Agustus 2025,” imbuhnya.
Fath menambahkan, masuknya BREN dan DSSA dalam daftar HSC tentunya mendorong outflow cukup signifikan. Namun dalam realisasinya, outflow yang terjadi antara pengelola dana aktif (active fund) dan dana pasif (passive fund) akan berbeda.
“Kalau kita ngomong konteks outflow dari pengelola dana aktif, logikanya mereka sudah pasti bereaksi jauh-jauh hari, bukan nanti ketika market buka,” jelas Fath.
Sementara bagi pengelola dana pasif, kata Fath, mereka akan mengikuti jadwal dan pengumuman rebalancing dari MSCI pada Mei 2026 nanti.
“Memang saham-saham yang masuk ke HSC ini kemungkinan besar probabilitasnya akan dikeluarkan dari MSCI. Itu sudah pasti dan tidak bisa masuk 12 bulan ke depan,” ungkap Fath.
Namun dengan keluarnya dua saham dengan kapitalisasi jumbo seperti BREN dan DSSA, bukan bersifat permanen. “Nanti ketika free-floatnya sudah sesuai yang diminta MSCI, tidak menutup kemungkinan mereka akan masuk kembali,” kata Fath.
Adapun potensi outflow passive fund yang akan dihadapi saham BREN dan DSSA diperkirakan mencapai Rp15 triliun, jika keduanya keluar sebagai konstituen MSCI dalam rebalancing Mei nanti. Dengan rincian estimasi outlow pada BREN Rp6 triliun dan DSSA Rp9 triliun.
Seperti disampaikan IDNFinancials.com pekan lalu, BEI telah merilis daftar saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi. Di dalamnya terdapat 9 emiten, termasuk PT Abadi Lestari Indonesia Tbk (RLCO) yang menggelar IPO pada Desember 2025 lalu. (KR)