Risiko inflasi meningkat, bank sentral global tahan suku bunga

Senin, 06 April 2026

image

NEW YORK - Bank-bank sentral global menyoroti ketidakpastian yang dipicu oleh konflik di Timur Tengah, sehingga pada Maret mereka secara umum mempertahankan suku bunga tetap.

Dilansir dari Reuters, kekhawatiran terhadap inflasi yang lebih tinggi dan pertumbuhan yang melemah membayangi prospek ekonomi global.

Para pembuat kebijakan di negara maju maupun berkembang mengambil sikap hati-hati.

Sebagian besar memilih menahan suku bunga atau bergerak secara bertahap, karena harga minyak yang bergejolak dan risiko geopolitik mempersulit langkah pelonggaran moneter.

Sikap waspada ini sebenarnya sudah diperkirakan. JPMorgan menyatakan bahwa bank sentral membutuhkan waktu untuk memahami besarnya guncangan harga minyak dan dampaknya dalam jangka panjang.

Namun, proyeksi ekonomi cenderung langsung mengarah pada inflasi yang lebih tinggi dan pertumbuhan yang lebih rendah.

Ketidakpastian ini mendorong kehati-hatian, terutama karena kebijakan moneter di banyak negara sudah berada di tingkat yang mendekati netral.

Di negara maju, hampir semua bank sentral tidak mengubah kebijakan. Dari sembilan pertemuan pada Maret, delapan berakhir tanpa perubahan suku bunga.

Hanya Australia yang menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin. Tidak ada negara maju besar yang memangkas suku bunga bulan itu, sehingga secara keseluruhan tahun ini terjadi pengetatan kecil sebesar 50 basis poin, berasal dari dua kali kenaikan oleh Australia.

Di negara berkembang, terdapat sedikit variasi namun tetap cenderung berhati-hati.

Dari 15 pertemuan pada Maret, 10 bank sentral menahan suku bunga, sementara empat negara melakukan pemangkasan kecil—Rusia sebesar 50 basis poin, serta Brasil, Meksiko, dan Polandia masing-masing 25 basis poin.

Kolombia menjadi pengecualian dengan menaikkan suku bunga secara agresif sebesar 100 basis poin, yang bahkan memicu penarikan pemerintah dari dewan bank sentral.

Bahkan di negara yang sudah mulai melonggarkan kebijakan, para pembuat kebijakan tetap menunjukkan kehati-hatian.

Bank sentral di Indonesia, Afrika Selatan, Filipina, Hungaria, dan Republik Ceko secara jelas menyebut ketidakpastian akibat konflik Timur Tengah sebagai alasan untuk menunda atau membatasi pemangkasan suku bunga.

Sikap hati-hati ini mencerminkan kondisi global yang berubah, di mana bank sentral harus menyeimbangkan perlambatan pertumbuhan dengan risiko kenaikan harga, terutama dari sektor energi.

Sepanjang tahun ini, bank sentral di negara berkembang secara bersih telah memangkas suku bunga sebesar 175 basis poin.

Ini berasal dari 10 kali pemangkasan dengan total 375 basis poin, yang sebagian diimbangi oleh dua kali kenaikan di Kolombia sebesar 200 basis poin.

Gambaran yang beragam ini menunjukkan bahwa penurunan inflasi terjadi tidak merata dan membatasi ruang gerak bank sentral untuk melonggarkan kebijakan secara mandiri di tengah kondisi global yang tidak menentu. (DK)