Survei ungkap bank sentral waspadai AI, berisiko datangkan krisis
Kamis, 27 November 2025

LONDON - Kecerdasan buatan (AI) belum menjadi bagian utama operasional di sebagian besar bank sentral dunia, sementara aset digital masih di luar pertimbangan, menurut survei yang dirilis oleh Official Monetary and Financial Institutions Forum pada Rabu kemarin.
Survei itu melibatkan kelompok kerja berisi 10 bank sentral dari Eropa, Afrika, Amerika Latin, dan Asia—dengan total aset kelolaan US$6,5 triliun.
Survei tersebut mengungkapkan 10 bank sentral sepakat bahwa bank yang paling aktif mengeksplorasi AI, justru menjadi institusi yang paling berhati-hati dalam mengelola risikonya.
Seperti dikutip reuters.com, sejumlah bank sentral juga khawatir pada perilaku berbasis AI bisa “mempercepat terjadinya krisis di masa depan.”
“AI membantu kami melihat lebih banyak, tapi keputusan tetap harus dipegang manusia,” ujar salah satu peserta survei.
Lebih dari 60% responden menyebut AI, yang telah memicu PHK di perusahaan teknologi serta bank ritel dan investasi, belum masih belum mendukung operasi inti.
Aplikasi awal umumnya terbatas pada tugas analisis rutin, bukan manajemen risiko atau konstruksi portofolio.
Sebaliknya, sebagian besar bank sentral memanfaatkan AI untuk pekerjaan dasar, seperti merangkum data atau memantau pasar.
Mayoritas responden atau 93% juga tidak berinvestasi di aset digital, meski “tren tokenisasi menarik minat namun mata uang kripto masih dipandang dengan hati-hati.”
Survei mencatat bahwa lembaga perbankan melihat dunia bergerak menuju sistem multipolar, mendorong keinginan diversifikasi sambil tetap fokus pada ketahanan dan likuiditas, yang membatasi cadangan aset.
Hampir 60% dari responden bahkan ingin mengurangi ketergantungan pada dolar Amerika Serikat (AS), meskipun mengakui likuiditas tak tertandingi dari Treasury AS membuat dolar tetap menjadi mata uang dominan.
“Kami bergerak dari sistem cadangan bipolar ke multipolar, tapi euro belum siap memimpin,” kata salah satu peserta kelompok kerja.
Status dolar sebagai mata uang cadangan utama dunia, sempat dipertanyakan tahun ini karena kebijakan tarif Presiden AS Donald Trump dan kekhawatiran soal independensi Federal Reserve.
Sementara euro dan yuan China diprediksi mendapat keuntungan, namun dolar diperkirakan tetap menjadi mata uang dominan di cadangan devisa. (DK/KR)