Lonjakan sulfur tekan industri nikel Indonesia dan tambang global
Senin, 06 April 2026

JAKARTA - Lonjakan harga sulfur ke level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir mulai menekan biaya produksi industri tambang global, terutama nikel di Indonesia dan tembaga di Afrika.
Seperti dikutip dari Mining, kenaikan ini dipicu gangguan pasokan akibat konflik Iran, mengingat kawasan Timur Tengah menyumbang sekitar 24% produksi sulfur dunia sebagai produk sampingan dari pengolahan minyak dan gas.
Di Indonesia, harga sulfur naik sekitar 20% menjadi sekitar US$600 per ton. Untuk pasokan ke smelter nikel berteknologi high-pressure acid leaching (HPAL), harga bahkan menembus di atas US$700 per ton. Sementara di Afrika bagian selatan, harga melonjak 37% ke US$715 per ton, dan untuk pasokan dalam kemasan kecil dari gudang pelabuhan tercatat melonjak hingga 66% ke level US$1.000 per ton.
Data menunjukkan harga sulfur kini berada di level tertinggi setidaknya dalam lima tahun terakhir. Kenaikan ini meningkatkan tekanan biaya pada proses pengolahan mineral, mengingat asam sulfat merupakan komponen penting dalam ekstraksi dan pemurnian logam.
Jika harga tinggi bertahan, ekspansi proyek tambang berpotensi tertunda dan pertumbuhan pasokan tembaga di kawasan copperbelt Afrika dapat melambat. Di sisi lain, kondisi ini membuka peluang bagi smelter tembaga di China untuk memperbaiki margin, seiring kenaikan harga produk turunan yang dapat mengompensasi lemahnya biaya pengolahan dan pemurnian.(DH)