Krisis Hormuz akibatkan India cari 2,5 juta ton urea, RI siap ekspor?

Senin, 06 April 2026

image

NEW DELHI - India tengah mencari 2,5 juta metrik ton urea untuk memperkuat pasokan domestik yang tertekan akibat gangguan suplai dari Timur Tengah terkait konflik AS-Israel dengan Iran.Badan milik negara Indian Potash Ltd (IPL) membuka tender impor 1,5 juta ton melalui pelabuhan di pantai barat, sementara 1 juta ton sisanya direncanakan masuk lewat pelabuhan pantai timur, berdasarkan dokumen di situs perusahaan.Seperti dikutip The Economics Times, pengiriman dijadwalkan berangkat dari pelabuhan muat paling lambat 14 Juni, dengan batas akhir penawaran pada 15 April.India secara rutin mengandalkan tender global guna memenuhi kebutuhan urea dalam negeri, terutama menjelang musim tanam padi, jagung, dan kedelai yang dimulai pada Juni bersamaan dengan datangnya monsun.Sebagai negara dengan sektor pertanian besar, India juga mengimpor pupuk lain seperti diamonium fosfat (DAP) dan muriate of potash, serta gas alam cair (LNG) yang menjadi bahan baku utama produksi urea.Timur Tengah menyumbang sekitar setengah impor DAP dan urea India, dengan Arab Saudi sebagai pemasok utama DAP dan Oman sebagai pemasok urea terbesar.Di sisi lain, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyatakan terdapat tiga negara yang mengajukan permintaan impor pupuk urea dari Indonesia di tengah terganggunya jalur distribusi akibat penutupan Selat Hormuz.“Kita akan ekspor urea karena kita produsen, dan ada beberapa negara yang meminta. Ada tiga negara yang sudah meminta,” ujar Amran saat meninjau Gudang Bulog Panaikang di Makassar, Minggu, mengutip dari Antara.Ia belum mengungkapkan negara tujuan karena proses negosiasi masih berlangsung, namun berharap kesepakatan tersebut memberikan nilai tambah optimal bagi Indonesia.Amran menambahkan pemerintah telah mengamankan pasokan pupuk sejak awal tahun melalui pembelian bahan baku guna memastikan ketersediaan tetap terjaga.Langkah ini dinilai sejalan dengan kebijakan Presiden Prabowo Subianto untuk menjaga ketahanan sektor pertanian.Menurutnya, tensi geopolitik di Timur Tengah belum berdampak signifikan terhadap harga pangan di dalam negeri karena stok beras nasional mencapai 4,5 juta ton atau cukup untuk kebutuhan sekitar 11 bulan ke depan.

Direktur Utama PT Pupuk Indonesia Rahmad Pribadi sebelumnya menegaskan ekspor urea tetap dilakukan sepanjang kebutuhan domestik terpenuhi. Indonesia saat ini masih mampu menyalurkan pupuk ke negara tetangga yang mengalami kendala pasokan.

Penutupan Selat Hormuz akibat konflik kawasan menyebabkan sejumlah negara mengalami hambatan memperoleh komoditas penting, termasuk minyak dan pupuk. Selama ini, tujuan ekspor urea Indonesia antara lain Australia, India, dan Filipina.

Kapasitas produksi urea nasional secara operasional mencapai 8,8 juta ton, dengan kapasitas terpasang hingga 9,4 juta ton.

Meski harga urea global melonjak dari sekitar US$400 menjadi US$800 per ton, pasokan domestik dinilai tetap aman berkat kemampuan produksi dalam negeri.

Untuk kuota ekspor, Pupuk Indonesia memperkirakan volume sekitar 1,5 juta ton, namun realisasinya tetap fleksibel menyesuaikan kondisi pasokan dalam negeri. (DK)