Pejabat UEA: Selat Hormuz jadi kunci perdamaian AS-Iran
Senin, 06 April 2026

WASHINGTON - Pejabat Uni Emirat Arab (UEA), Anwar Gargash, menyatakan bahwa setiap penyelesaian konflik antara AS dan Iran harus menjamin akses bebas melalui Selat Hormuz.
Ia memperingatkan bahwa kesepakatan yang gagal mengendalikan program nuklir, rudal, dan drone Iran akan menciptakan “Timur Tengah yang lebih berbahaya dan tidak stabil.”
Seperti dikutip Reuters, Gargash, penasihat diplomatik presiden UEA, menegaskan dalam briefing akhir pekan bahwa Selat Hormuz, jalur minyak vital dunia, tidak boleh digunakan sebagai senjata.
Keamanan jalur tersebut, menurutnya, bukan alat tawar-menawar regional, melainkan kebutuhan ekonomi global.
“Selat Hormuz tidak dapat disandera oleh negara manapun,” kata Gargash. Ia menambahkan bahwa kebebasan navigasi harus menjadi bagian integral dari setiap kesepakatan yang menyelesaikan konflik dengan jelas.
Meski UEA menginginkan perang segera berakhir, Gargash memperingatkan agar gencatan senjata tidak meninggalkan akar ketidakstabilan.
“Kami tidak ingin eskalasi meningkat, tetapi juga tidak ingin gencatan senjata yang gagal mengatasi isu-isu utama, seperti program nuklir Iran serta serangan rudal dan drone yang terus menghujani kami dan negara lain,” ujarnya.
Presiden AS Donald Trump mengancam akan menyerang Teheran lebih jauh jika Iran tidak membuat kesepakatan dan membuka kembali Selat Hormuz sebelum tenggat waktu pada hari Selasa.
Dalam unggahan di platform Truth Social, Trump menyinggung serangan terhadap infrastruktur energi dan transportasi Iran, yang menurut kritikus dapat dianggap kejahatan perang.
Selama lebih dari lima minggu, AS dan Israel telah melakukan serangan rudal dan udara terhadap Iran, dengan alasan menghancurkan ancaman dari program senjata nuklir, persenjataan rudal balistik, dan dukungan Tehran terhadap milisi proksi regional.
Gargash menegaskan bahwa UEA siap bergabung dalam upaya internasional yang dipimpin AS untuk mengamankan jalur pengiriman melalui Selat Hormuz.
Sekitar 20% pasokan minyak dan gas cair global melewati selat ini setiap hari, tetapi tindakan Iran telah membatasi lalu lintas dan memicu krisis energi global.
Konflik pecah pada 28 Februari setelah negosiasi kesepakatan nuklir antara Washington dan Teheran gagal, memicu serangan AS dan Israel terhadap Iran. Iran membalas dengan gelombang rudal dan serangan drone ke Israel, pangkalan militer AS di kawasan, serta infrastruktur energi Teluk, termasuk bandara, pelabuhan, dan pusat komersial.
Menurut pejabat regional, UEA menerima serangan Iran lebih berat dibanding negara Teluk lainnya.
Gargash menuturkan bahwa meski skenario serangan penuh Iran adalah yang paling buruk bagi UEA, negara ini mampu menanganinya dengan baik, menunjukkan ketahanan dan kemampuan beradaptasi.
Ia menambahkan bahwa fundamental ekonomi UEA tetap kuat, memposisikan negara itu untuk pemulihan meski membutuhkan usaha.
Strategi Iran, kata Gargash, kemungkinan justru akan memperkuat aliansi keamanan Teluk dengan AS, memperluas peran militer AS di kawasan, dan meningkatkan pengaruh Israel.
AS akan tetap menjadi mitra keamanan utama UEA, dan Abu Dhabi akan memperkuat hubungan tersebut di tengah meningkatnya ancaman regional. (DK)