IMF: Tokenisasi percepat krisis, bank sentral akan sulit respons

Selasa, 07 April 2026

image

JAKARTA - International Monetary Fund memperingatkan bahwa tokenisasi dalam sistem keuangan berpotensi mempercepat krisis pasar lebih cepat dari kemampuan respons bank sentral. Peringatan ini disampaikan dalam laporan terbaru yang menilai tokenisasi bukan sekadar efisiensi, melainkan perubahan struktural dalam arsitektur keuangan.

Dikutip theblock, laporan yang disusun oleh Tobias Adrian menyoroti bahwa mekanisme yang selama ini dianggap tidak efisien justru berfungsi sebagai penyangga risiko. Sistem penyelesaian dua hari memberi ruang bagi bank sentral untuk menyiapkan likuiditas dan melakukan intervensi sebelum transaksi final.

Otomatisasi dalam bentuk margin call dan sistem berbasis algoritma dinilai mempersempit waktu respons. Infrastruktur bank sentral saat ini dirancang untuk siklus kerja harian, bukan sistem yang berjalan tanpa henti selama 24 jam. Laporan tersebut juga menyoroti stablecoin sebagai titik lemah struktural. Instrumen ini dinilai serupa dengan reksa dana pasar uang: stabil dalam kondisi normal, tetapi rentan terhadap penarikan besar saat kepercayaan turun.

"Stablecoin tanpa akses ke cadangan bank sentral memerlukan pengamanan tambahan di tingkat infrastruktur, termasuk penyangga likuiditas yang lebih tinggi dan margin yang konservatif, untuk mengimbangi risiko aset penyelesaian," tulis Adrian dalam laporan tersebut.

IMF juga mencatat bahwa pertumbuhan kredit berbasis token masih terbatas. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan penilaian kredit akibat sifat pseudonim blockchain, sehingga pelaku pasar mengandalkan jaminan berlebih. Di sisi lain, peminjam cenderung memilih fleksibilitas negosiasi dibanding eksekusi otomatis kontrak pintar.

Adrian menolak prinsip “kode adalah hukum” dalam sistem yang berdampak sistemik. Ia menekankan perlunya mekanisme override dalam smart contract untuk kondisi darurat, serta kepastian hukum atas aset yang ditokenisasi.

"Ketika aset ada sebagai token di buku besar terdistribusi, muncul pertanyaan mengenai hukum yang berlaku, lokasi aset, dan keberlakuan klaim dalam kepailitan," tulis Adrian.

IMF memetakan tiga arah perkembangan tokenisasi, sistem terkoordinasi berbasis mata uang digital bank sentral, fragmentasi antarnegara, atau dominasi stablecoin swasta yang melemahkan peran negara.

Sebagai respons, IMF mengusulkan lima pilar kebijakan, termasuk penempatan sistem penyelesaian pada aset yang aman, regulasi yang setara, kepastian hukum, standar interoperabilitas, serta penyesuaian alat bank sentral untuk sistem yang berjalan terus-menerus.

Peringatan ini muncul saat pelaku pasar di Amerika Serikat mempercepat pengembangan aset tokenisasi. New York Stock Exchange menggandeng Securitize untuk platform sekuritas 24/7, sementara induknya Intercontinental Exchange berinvestasi di OKX. Nasdaq juga mengajukan izin untuk memperdagangkan saham tokenisasi, dan Depository Trust & Clearing Corporation mulai menguji tokenisasi aset kustodian.

Sebelumnya, IMF juga mengingatkan bahwa stablecoin berbasis dolar dapat mempercepat substitusi mata uang di negara dengan sistem moneter lemah. Risiko ini dinilai lebih besar bagi negara berkembang jika adopsi stablecoin global meningkat.

Nilai aset dunia nyata berbasis token saat ini mencapai sekitar US$27,7 miliar, naik dari sekitar US$5,5 miliar pada awal 2025. Sementara itu, kapitalisasi pasar stablecoin mendekati US$300 miliar.(DH)