Iran bebaskan Irak dari blokade Selat Hormuz?

Selasa, 07 April 2026

image

SINGAPURA – Perusahaan pemasar minyak negara Irak, SOMO, mendesak para pelanggannya untuk segera menyerahkan jadwal pemuatan minyak mentah (crude oil lifting schedules) dalam batas waktu 24 jam.

Langkah cepat ini diambil menyusul adanya laporan media yang menyatakan bahwa Iran telah memberikan pengecualian kepada Irak dari segala pembatasan transit pelayaran melalui perairan strategis Selat Hormuz (Strait of Hormuz).

Kelonggaran geopolitik tersebut memberikan celah bagi Irak untuk kembali memulihkan roda ekspor energi mereka di tengah eskalasi konflik yang sedang berkecamuk di kawasan tersebut.

Seperti dikutip Reuters (06/04/2026), berdasarkan sebuah dokumen tertanggal 5 April yang ditinjau oleh Reuters, pihak SOMO menegaskan urgensi pengiriman jadwal tersebut demi menjaga kelancaran operasi ekspor.

"Mengingat hal di atas, dan untuk memastikan keberlanjutan serta stabilitas operasi ekspor minyak mentah, kami mendesak perusahaan Anda yang terhormat untuk menyerahkan jadwal pemuatannya dalam waktu 24 jam guna memungkinkan pemrosesan program pemuatan Anda secara tepat waktu, termasuk nominasi kapal dan volume kontraktual, selaras sepenuhnya dengan syarat dan ketentuan yang disepakati," tulis pihak SOMO dalam dokumen tersebut.

Dalam dokumen yang sama, SOMO juga secara tegas memberikan jaminan penuh atas kesiapan infrastruktur logistik mereka di lapangan.

"Kami dengan ini menegaskan kembali bahwa seluruh terminal pemuatan, termasuk Basrah Oil Terminal (BOT) dan fasilitas terkait, tetap beroperasi penuh, dan SOMO dalam keadaan siap sepenuhnya untuk mengeksekusi semua program pemuatan kontraktual tanpa batasan apa pun," tegas dokumen itu.

Terkait surat edaran ini, perwakilan SOMO belum dapat dihubungi segera untuk memberikan komentar lebih lanjut karena di luar jam kerja.

Dimulainya kembali aktivitas ekspor minyak ini diyakini akan sangat krusial bagi anggota OPEC tersebut untuk meningkatkan produksinya, mengingat tingkat produksi Irak dilaporkan sempat kolaps tajam hingga menyentuh angka sekitar 800.000 barel per hari (barrels per day) pada bulan lalu.

Namun, sejumlah pelaku pasar (market participants) memperingatkan bahwa kelancaran ekspor masih akan menemui jalan terjal.

Masih harus dilihat apakah para pemilik armada kapal (shipowners) benar-benar bersedia mengizinkan kapal tanker mereka memasuki kawasan Teluk untuk memuat minyak, mengingat perang antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran hingga saat ini masih terus berlangsung. (SF)