Anggota tak mampu naikkan produksi, OPEC: Pemulihan akan lambat

Selasa, 07 April 2026

image

JAKARTA - Anggota OPEC+ menyepakati kenaikan kuota produksi minyak sebesar 206.000 barel per hari untuk Mei 2026.

Kenaikan ini bersifat terbatas, karena sejumlah anggota OPEC+ belum mampu menaikkan produksi akibat konflik antara AS-Israel dengan Iran, yang mengganggu jalur produksi hingga distribusi energi.

Gangguan pengiriman di Selat Hormuz yang berlangsung sejak akhir Februari, telah menekan ekspor negara penghasil minyak seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Irak.

Jalur ini merupakan rute utama perdagangan minyak dunia. Dikutip Aljazeera, dalam pernyataan resmi usai pertemuan virtual Minggu, delapan anggota OPEC+ menyatakan komitmen mereka dalam menjaga stabilitas pasar.

“Negara-negara akan terus memantau dan menilai kondisi pasar secara cermat, dan dalam upaya berkelanjutan mereka untuk mendukung stabilitas pasar,” tulis OPEC+ dalam pernyataan resminya.

Meskipun demikian, tambahan kuota pada Mei 2026 kurang dari 2% terhadap total pasokan minyak yang terganggu akibat penutupan Selat Hormuz.

Sumber OPEC+ menyebut langkah ini menjadi sinyal kesiapan meningkatkan produksi jika situasi di Selat Hormuz kembali normal.

Harga minyak melonjak mendekati US$120 per barel, tertinggi dalam empat tahun, seiring gangguan pasokan. JPMorgan Chase memperkirakan harga bisa menembus US$150 per barel jika gangguan berlanjut hingga pertengahan Mei.

Gangguan pasokan global diperkirakan mencapai 12–15 juta barel per hari atau sekitar 15% dari total pasokan dunia. Meski demikian, Iran masih memberi pengecualian bagi beberapa negara. Data pelayaran menunjukkan tanker minyak Irak tetap melintasi Selat Hormuz.

Di sisi diplomasi, Oman menggelar pembicaraan dengan Iran untuk memastikan kelancaran pelayaran di kawasan tersebut. Presiden AS, Donald Trump, mengancam meningkatkan serangan terhadap Iran jika Selat Hormuz tidak kembali dibuka sesuai tenggat.

Trump menyebut target serangan dapat mencakup infrastruktur sipil seperti jembatan dan pembangkit listrik. Pernyataan ini memperbesar risiko eskalasi konflik dan menambah tekanan pada pasar energi global.

Ancaman tersebut muncul di tengah lonjakan harga minyak dan gangguan distribusi yang sudah menekan pasokan dunia. Ketidakpastian geopolitik diperkirakan tetap menjadi faktor utama pergerakan harga energi dalam jangka pendek. (DH/KR)