Morgan Stanley: The Fed fokus inflasi inti, tetap pangkas bunga

Selasa, 07 April 2026

image

JAKARTA - Morgan Stanley menilai Federal Reserve tetap berpeluang memangkas suku bunga pada 2026 meski terjadi lonjakan inflasi akibat kenaikan harga minyak.

Bank investasi tersebut melihat tekanan harga inti masih terkendali sehingga tren disinflasi tidak terganggu.

Dikutip investing, dalam riset terbarunya, Morgan Stanley menekankan bahwa fokus utama pembuat kebijakan bukan inflasi utama yang terdorong energi, melainkan ekspektasi inflasi jangka panjang. Indikator tersebut sejauh ini tetap stabil, meski ekspektasi jangka pendek meningkat seiring kenaikan harga minyak.

Bank itu menilai kenaikan ekspektasi inflasi satu tahun mencerminkan tekanan sementara dari energi, bukan perubahan struktural. Ekspektasi jangka panjang yang tetap dekat level pra-pandemi menunjukkan kredibilitas pengendalian inflasi masih terjaga.

Morgan Stanley memperkirakan dampak kenaikan harga minyak terhadap inflasi inti terbatas. Dengan kondisi itu, The Fed cenderung mengabaikan lonjakan harga energi selama inflasi dasar terus menunjukkan perbaikan.

Laporan tersebut juga mencatat pengetatan kondisi keuangan sudah terjadi signifikan sejak konflik Timur Tengah, didorong penguatan dolar AS, kenaikan harga minyak, dan premi risiko ekuitas. Dampaknya setara dengan kenaikan suku bunga sekitar 80 basis poin, sehingga mengurangi kebutuhan pengetatan tambahan.

Dengan latar belakang tersebut, Morgan Stanley memproyeksikan The Fed mulai melonggarkan kebijakan pada paruh kedua 2026. Bank sentral diperkirakan menurunkan suku bunga dua kali masing-masing 25 basis poin hingga berada di kisaran 3,0%-3,25%.

Namun, prospek tersebut bergantung pada stabilitas ekspektasi inflasi jangka panjang. Jika indikator ini meningkat tajam, The Fed berpotensi menahan suku bunga lebih lama, terutama jika lonjakan energi mulai memengaruhi pembentukan harga secara luas.(DH)