Bahlil Lahadalia: Indonesia terbuka impor minyak dari Rusia
Selasa, 07 April 2026

JAKARTA - Indonesia membuka peluang untuk mengimpor minyak dari berbagai negara, termasuk Rusia, guna menjaga ketahanan pasokan energi di tengah ketidakpastian pasar global.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia menyatakan pemerintah bersikap fleksibel dalam mencari sumber minyak mentah demi memastikan ketersediaan bahan bakar dalam negeri.
“Kalau sudah final, nanti kami sampaikan,” ujar Bahlil saat ditemui di Kementerian ESDM, Jakarta, menanggapi kemungkinan kerja sama dengan Rusia, mengutip Antara.
Pernyataan tersebut merespons tawaran dari Duta Besar Rusia untuk Indonesia, Sergei Tolchenov, terkait potensi penjualan minyak ke Indonesia.
Menurut Bahlil, Indonesia tidak bisa terlalu selektif dalam memilih sumber impor, mengingat kondisi pasar energi global yang semakin ketat.
Pemerintah, kata dia, akan mengutamakan negara mana pun yang mampu menjamin ketersediaan pasokan.
Ia menambahkan, persaingan mendapatkan minyak di pasar global kini semakin ketat, seiring terbatasnya pasokan dan meningkatnya harga.
Bahkan, perusahaan yang telah membuka tender pun berpotensi kalah dari pembeli lain yang berani membayar lebih tinggi.
Kondisi ini mencerminkan bahwa penjual cenderung memprioritaskan pembeli dengan penawaran harga paling kompetitif di tengah keterbatasan suplai.
“Karena itu, kami menyiapkan berbagai alternatif. Yang terpenting adalah memastikan BBM tetap tersedia di dalam negeri,” ujarnya.
Bahlil belum mengungkapkan rincian volume maupun jadwal impor minyak dari Rusia.
Di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik yang mengganggu jalur pasokan tradisional, Indonesia terus berupaya mendiversifikasi sumber energi.
Sebelumnya, Tolchenov menyatakan Rusia siap menjalin kerja sama di sektor minyak dan gas dengan Indonesia, terutama di tengah kenaikan harga global akibat gangguan distribusi di Selat Hormuz.
Ia juga menegaskan bahwa hingga kini belum ada permintaan resmi dari Pertamina maupun pemerintah Indonesia. Namun, pihaknya tetap terbuka untuk menjajaki skema pasokan sesuai kebutuhan Indonesia.
Dalam beberapa pekan terakhir, pasar minyak global mengalami pengetatan, mendorong banyak negara meninjau ulang strategi pengadaan energi mereka. (DK)