CEO JPMorgan tekan alarm risiko global, industri hadapi disrupsi AI
Selasa, 07 April 2026
JAKARTA - CEO JPMorgan Chase, Jamie Dimon, menyoroti meningkatnya ketidakpastian global di tengah konflik geopolitik, tekanan ekonomi, dan percepatan adopsi kecerdasan buatan (AI).
Dalam surat tahunan kepada pemegang saham, Dimon menyebut momen peringatan 250 tahun Amerika Serikat (AS) sebagai waktu yang tepat, untuk kembali menegaskan nilai-nilai fundamental negara tersebut.
“Tantangan yang kita hadapi bersama sangat signifikan. Daftarnya panjang, tetapi yang terpenting adalah perang dan kekerasan yang terus berlanjut di Ukraina, perang yang sedang berlangsung di Iran, dan permusuhan yang lebih luas di Timur Tengah, aktivitas teroris, dan meningkatnya ketegangan geopolitik, terutama dengan China,” kata Dimon, dikutip CNBC.
Ia menilai konflik global, termasuk perang di Iran dan Ukraina, menjadi risiko utama bagi stabilitas ekonomi dan pasar global. Menurutnya, hasil dari dinamika geopolitik saat ini dapat menentukan arah tatanan ekonomi dunia ke depan.
Dimon juga menyoroti tekanan lain seperti inflasi yang masih tinggi, gejolak di pasar private credit, serta regulasi perbankan yang dinilai tidak efisien. Ia juga menyebut aturan pascakrisis keuangan 2008 menciptakan sistem yang lambat dan kompleks.
“Meskipun peraturan seperti yang diterapkan setelah krisis keuangan 2008 ‘mencapai beberapa hal baik ... peraturan tersebut juga menciptakan sistem yang terfragmentasi, bergerak lambat dengan aturan dan regulasi yang mahal, tumpang tindih, dan berlebihan beberapa di antaranya membuat sistem keuangan lebih lemah dan mengurangi pemberian pinjaman yang produktif.’”
Di satu sisi, Dimon mengkritik sejumlah kebijakan seperti syarat modal dan likuiditas, serta mekanisme stress test dari Federal Reserve. Ia bahkan menilai proposal aturan Basel III Endgame dan tambahan beban bagi bank sistemik global masih bermasalah.
“Meskipun menggembirakan melihat bahwa proposal terbaru untuk Basel 3 Endgame (B3E) dan GSIB berupaya mengurangi peningkatan modal yang dibutuhkan dari proposal tahun 2023, masih ada beberapa aspek yang terus terang tidak masuk akal,” kata Dimon.
Di sektor pasar keuangan, Dimon mengingatkan risiko di private credit akibat rendahnya transparansi dan valuasi yang lemah. Kondisi ini dinilai dapat memicu aksi jual jika sentimen memburuk, meski kerugian riil belum berubah signifikan.
“Secara umum, kredit swasta cenderung tidak memiliki transparansi yang tinggi atau tolok ukur penilaian yang ketat terhadap pinjaman mereka hal ini meningkatkan kemungkinan orang akan menjual jika mereka berpikir lingkungan akan memburuk bahkan jika kerugian aktual yang terjadi hampir tidak berubah,” ungkap Dimon.
Sementara itu, perkembangan AI dinilai berlangsung lebih cepat dibanding teknologi sebelumnya dan akan membawa perubahan besar. Namun ia menegaskan belum ada kepastian, siapa yang akan menjadi pemenang dalam kompetisi ini.
“Secara keseluruhan, investasi di bidang AI bukanlah gelembung spekulatif; melainkan akan memberikan manfaat yang signifikan,” tutur Dimon.
Ia menambahkan JPMorgan akan terus mengadopsi AI untuk meningkatkan layanan dan efisiensi operasional, sekaligus mengantisipasi dampak lanjutan dari transformasi teknologi tersebut terhadap tenaga kerja dan masyarakat. (DH/KR)