Angola negosiasi bunga utang US$1 miliar dengan JPMorgan
Kamis, 27 November 2025

LUANDA – Angola akan memperpanjang fasilitas utang US$1 miliar dengan JPMorgan yang hampir jatuh tempo, kata seorang pejabat senior Kementerian Keuangan kepada Reuters. Negara Afrika selatan ini berencana menurunkan suku bunga fasilitas tersebut saat diperpanjang, menurut pejabat yang meminta namanya tidak disebut karena kesepakatan belum final. Suku bunga awal tidak diungkap, namun sumber dari Kementerian Keuangan Angola menyebut suku bunga pada Mei lalu berada sedikit di bawah 9%. JPMorgan menolak berkomentar mengenai perpanjangan atau revisi persyaratan.
Hampir setahun lalu, Angola dan JPMorgan menandatangani kontrak derivatif senilai US$1 miliar, yang didukung oleh obligasi pemerintah Angola senilai US$1,9 miliar. Surat utang itu dibuat secara khusus sebagai jaminan kontrak derivatif.
Laporan Reuters pada April lalu menyebutkan bahwa JPMorgan meminta tambahan jaminan US$200 juta, karena nilai obligasi yang menjadi jaminan melemah akibat tarif AS.
Namun nilai obligasi kemudian pulih dan pemerintah Angola mendapatkan kembali jaminan tambahan tersebut.
Obligasi Angola diperdagangkan di harga US$99,8 sen pada Selasa, menurut pelaku pasar. Negara frontier market dengan peringkat kredit rendah dan beban utang tinggi semakin gencar memanfaatkan skema pembiayaan kompleks, seperti kontrak Angola dengan JPMorgan. Sementara negara seperti Senegal, Gabon, dan Kamerun juga menggunakan “kesepakatan di balik layar” seperti private placement atau pinjaman serupa untuk mengatasi keterbatasan akses pendanaan publik. Kementerian Keuangan Angola membela struktur fasilitas yang tidak menambah utang pemerintah secara langsung, mengingat obligasi US$1,9 miliar milik Angola menjadi kolateral untuk dua tranche pinjaman US$600 juta dan US$400 juta.
Angola yang dikenal sebagai eksportir minyak dengan utang jumbo ini, saat ini tidak memiliki program pembiayaan dengan International Monetary Fund atau IMF. (DK/KR)