Jelang deadline serangan Amerika, harga minyak naik

Selasa, 07 April 2026

image

SINGAPURA - Harga minyak melanjutkan kenaikan pada Selasa (7/4) seiring semakin dekatnya tenggat waktu dari Amerika Serikat bagi Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz dan  ancaman dari Presiden AS Donald Trump yang memerintahkan serangan terhadap jembatan dan pembangkit listrik Iran.

Seperti dikutip Reuters, minyak mentah Brent naik US$1,44 atau 1,3% menjadi US$111,21 per barel pada pukul 07.00 GMT. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat US$2,32 atau 2,1% ke US$114,73.

Trump memperingatkan akan menghujani Teheran dengan “kehancuran” jika tidak memenuhi batas waktu pukul 20.00 EDT pada Selasa (00.00 GMT Rabu) untuk membuka kembali selat tersebut, jalur penting yang biasanya dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia, jika kesepakatan tidak tercapai.

Menanggapi proposal AS melalui mediator Pakistan, Iran menolak gencatan senjata dan menegaskan bahwa perang harus diakhiri secara permanen.

Iran juga menolak tekanan untuk membuka kembali Selat Hormuz.

Penolakan Iran terhadap usulan gencatan senjata membuat ketegangan tetap tinggi dan proses diplomasi berada di titik kritis, menurut Priyanka Sachdeva, analis pasar senior di Phillip Nova.

Ia menyebutkan bahwa harga minyak tetap bertahan tinggi karena risiko konflik kini nyata.

Serangan terhadap infrastruktur energi dan pengiriman masih berlangsung, dan pelaku pasar khawatir bahwa kerusakan fasilitas bisa mengganggu pasokan selama berbulan-bulan, bahkan jika perang berakhir.

Ekspor dari beberapa negara produsen di Teluk sudah menurun drastis akibat terbatasnya arus melalui Selat Hormuz. Pasukan Iran secara efektif menutup jalur tersebut setelah serangan AS dan Israel dimulai pada 28 Februari.

Menurut Tim Waterer, analis utama di KCM Trade, pasar minyak saat ini tidak hanya dipengaruhi oleh faktor fundamental, tetapi juga oleh hitung mundur menuju ultimatum Trump.

Meski ada kemungkinan kesepakatan gencatan senjata yang dapat menekan harga, kekhawatiran pasokan akibat penutupan Selat Hormuz dan kerusakan fasilitas energi tetap menjaga harga di level tinggi.

Dewan Keamanan PBB dijadwalkan melakukan pemungutan suara terkait resolusi perlindungan pelayaran komersial di Selat Hormuz, namun dalam versi yang telah dilemahkan setelah China menolak penggunaan kekuatan.

Ketegangan di kawasan juga terus berlanjut, dengan ledakan terdengar di Damaskus, Suriah, akibat intersepsi rudal Iran oleh Israel.

Arab Saudi juga melaporkan berhasil mencegat tujuh rudal balistik yang mengarah ke wilayah timurnya.

Konflik ini menekan pasokan minyak global, mendorong premi harga minyak WTI ke level tertinggi sepanjang masa karena kilang di Asia dan Eropa berebut mencari pasokan pengganti.

Perusahaan minyak Saudi Aramco bahkan menaikkan harga jual resmi minyak Arab Light untuk pasar Asia pada pengiriman Mei, mencetak premi rekor US$19,50 per barel di atas rata-rata Oman/Dubai.

Di sisi lain, Rusia melaporkan serangan drone Ukraina terhadap terminal Caspian Pipeline Consortium di Laut Hitam yang menangani sekitar 1,5% pasokan minyak dunia, menyebabkan kerusakan pada fasilitas penyimpanan dan pemuatan.

Sementara itu, OPEC+ sepakat meningkatkan kuota produksi sebesar 206.000 barel per hari pada Mei, meski kenaikan ini diperkirakan terbatas dampaknya karena beberapa negara anggota tidak mampu meningkatkan produksi akibat gangguan ekspor. (DK)