Laba perusahaan teknologi AS turun, valuasi terus meroket, mengapa?

Kamis, 27 November 2025

image

WASHINGTON – Porsi laba perusahaan teknologi dalam indeks S&P 500 terus menurun, sementara kontribusi mereka terhadap nilai pasar indeks justru bertahan di dekat level tertinggi dalam beberapa dekade.

Seperti dikutip Reuters, kondisi ini menimbulkan kekhawatiran bahwa valuasi saham teknologi semakin menjauh dari tren profit fundamental.

Analisis Reuters menunjukkan bahwa pada kuartal III, sektor teknologi menyumbang 20,8% laba S&P 500, turun dari 22,8% tiga kuartal sebelumnya. Sebaliknya, porsi kapitalisasi pasar sektor ini meningkat menjadi 31,1% per Jumat lalu, dibandingkan sekitar 30% di awal tahun.

Analis menilai ketidaksinkronan tersebut—ditambah bobot sektor teknologi yang sangat besar dalam portofolio pasif—dapat memperparah tekanan pasar jika terjadi kekecewaan pada kinerja laba.

“Kesenjangan yang melebar sebenarnya sebagian mencerminkan proyeksi pertumbuhan laba dan arus kas bebas di masa depan, namun tidak seluruhnya,” ujar Illia Kyslytskyi, Head of Research Yaru Investments.

Reli saham teknologi menuju rekor baru didorong ekspektasi bahwa AI akan menghasilkan keuntungan besar, membuat valuasi makin bergantung pada percepatan pertumbuhan laba.

Saat ini, Nasdaq Composite diperdagangkan pada forward P/E 29,28—jauh di atas rata-rata 10 tahun sebesar 23,48—dan lebih tinggi dari rasio S&P 500 yang berada pada 24,35.

Meski sektor teknologi mencatat laba kuat pada kuartal September, dipimpin Nvidia, sejumlah analis menilai prospek laba ke depan bergantung pada seberapa cepat AI menghasilkan pendapatan bagi pelanggan dan bagaimana efisiensi belanja dari perusahaan penyedia layanan.

Alexander Lis, CIO Social Discover Ventures, mengatakan margin “Magnificent 7” terdorong sementara oleh capex terkait AI, karena pemasok membukukan pendapatan lebih awal. Akibatnya, profitabilitas dapat kembali normal ketika laju belanja melambat.

Nasdaq telah naik 18,4% sepanjang tahun ini, namun turun lebih dari 3,5% sepanjang bulan berjalan.

Menurut Derek Izuel, Portfolio Manager Shelton Capital Management, saham teknologi berpotensi terkoreksi beberapa persen jika pertumbuhan laba tidak mampu mengejar valuasi tinggi saat ini.

“Koreksi yang lebih tajam hingga mengembalikan risk premium ke level normal bisa mendekati dua digit,” ujarnya. (DK)