Harga minyak tinggi, UBS pangkas target S&P 500 pada 2026
Rabu, 08 April 2026

NEW YORK - UBS Global Wealth Management menurunkan target indeks S&P 500 (.SPX) untuk 2026, menyebut harga minyak yang tetap tinggi akibat konflik di Timur Tengah dapat menekan pertumbuhan ekonomi dan inflasi AS.
Dalam catatan tertanggal 6 April, UBS menurunkan target akhir tahun menjadi 7.500 dari 7.700 dan target pertengahan tahun menjadi 7.000 dari 7.300.
Seperti dikutip Reuters, sejak pecahnya perang Iran pada 28 Februari, indeks acuan ini turun sekitar 3,9%, karena lonjakan harga minyak dan risiko geopolitik mendorong investor menarik diri dari saham.
UBS memperkirakan konflik di Timur Tengah akan mereda dalam beberapa minggu mendatang, memungkinkan aliran energi pulih secara bertahap.
Namun, pemulihan produksi minyak ke level sebelum konflik akan memakan waktu lebih lama akibat kerusakan infrastruktur yang luas, sehingga harga minyak bisa tetap tinggi.
“Harga energi yang lebih tinggi kemungkinan akan sedikit menekan pertumbuhan ekonomi dan menjaga tekanan inflasi tetap kuat, yang berpotensi menunda pemangkasan suku bunga Federal Reserve berikutnya,” kata UBS.
Bulan lalu, UBS juga menunda ekspektasi pemangkasan suku bunga Fed, kini memperkirakan dua pemotongan 25 basis poin pada September dan Desember, dibanding sebelumnya Juni dan September.
Meski target indeks diturunkan, proyeksi UBS masih menunjukkan potensi kenaikan 13,43% dari penutupan terakhir S&P 500 di 6.611,83.
Perusahaan tetap mempertahankan pandangan “atraktif” terhadap saham AS dan mempertahankan proyeksi laba S&P 500 2026 sebesar $310 per saham.
“Seiring efek negatif perang mulai mereda, kami memperkirakan saham akan didukung oleh pertumbuhan laba yang solid, Fed yang tetap mendukung meski pelonggaran tertunda, serta adopsi dan monetisasi AI yang berlanjut,” tambah UBS. (DK)