Harga emas melesat ke US$4.800 menyambut gencatan AS-Iran
Rabu, 08 April 2026

JAKARTA - Harga emas menguat pada awal sesi Asia, setelah pelaku pasar merespons rencana gencatan senjata sementara antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Presiden AS, Donald Trump, menyatakan pemerintahannya menyetujui gencatan senjata dua pekan sambil meninjau proposal perdamaian dari Teheran.
“Kami menerima proposal 10 poin dari Iran, dan percaya bahwa itu adalah dasar yang layak untuk bernegosiasi. Hampir semua poin perselisihan di masa lalu telah disepakati antara Amerika Serikat dan Iran, tetapi jangka waktu dua minggu akan memungkinkan Perjanjian tersebut untuk diselesaikan dan diwujudkan,” kata Trump, dikutip Kitco.
Sentimen tersebut mendapat reaksi positif dari pasar global. Kontrak berjangka S&P 500 naik lebih dari 2%, sementara harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun sekitar 15%.
Harga emas di pasar spot terakhir diperdagangkan di level US$4.809,20 per troi ons, naik lebih dari 2% dan menembus level resistensi penting di US$4.800.
Pelaku pasar menilai level US$5.000 sebagai batas psikologis berikutnya bagi emas. Harga perak juga menguat, naik lebih dari 4% ke atas US$76 per troi ons.
Analis menilai potensi berakhirnya konflik dapat membuka ruang bagi bank sentral, termasuk Federal Reserve, untuk mempertimbangkan penurunan suku bunga pada akhir tahun.
Meski demikian, kinerja emas sebelumnya sempat tertekan. Pada Maret kemarin, harga logam mulia ini turun lebih dari 11% dan menjadi penurunan bulanan terbesar sejak awal 1980-an, seiring aksi jual untuk memenuhi kebutuhan likuiditas.
Tekanan juga datang dari ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi akibat kenaikan inflasi, yang meningkatkan biaya peluang kepemilikan emas.
Kenaikan harga energi selama konflik dinilai turut memicu gangguan rantai pasok global dan mendorong inflasi, serta memaksa sejumlah bank sentral menahan kebijakan pelonggaran moneter.
Analis Pepperstone, Michael Brown, menilai perhatian pasar kini beralih pada dampak ekonomi dari konflik dan lonjakan harga energi terhadap pertumbuhan global.
Ia mengingatkan risiko eskalasi tetap tinggi jika gencatan senjata gagal bertahan, yang dapat kembali mendorong kenaikan harga minyak dan menekan pasar keuangan global. (DH/KR)