Rusia tinggalkan starlink, andalkan satelit Airbus dan Thales
Rabu, 08 April 2026

JAKARTA - Rusia mulai mengurangi ketergantungan pada sistem komunikasi satelit Barat seperti Starlink dengan mengandalkan terminal baru yang terhubung ke satelit buatan Eropa.
Dikutip united24media, laporan Defense Express menyebut penggunaan terminal satelit kompak Sprint-030 oleh militer Rusia meningkat dalam beberapa bulan terakhir. Perangkat ini berukuran lebih kecil dibanding terminal konvensional dan dirancang untuk menyediakan akses internet melalui infrastruktur orbit yang sudah dimiliki Rusia.
Terminal tersebut kompatibel dengan jaringan satelit “Yamal” dan seri “Express” milik Rusia. Data dari pengembangnya, GK REIS, menunjukkan uji coba pada Juli 2024 berhasil terhubung dengan satelit Express-AM7 dengan kecepatan unduh hingga 10 Mbps dan unggah 1 Mbps.
Satelit Express-AM7 diketahui diproduksi oleh Airbus menggunakan platform Eurostar-3000 dan diluncurkan pada 2015. Satelit ini menjadi bagian dari jaringan yang dioperasikan perusahaan milik negara Rusia, Kosmicheskaya Svyaz.
Sejumlah satelit lain dalam seri “Express” juga melibatkan Thales Alenia Space, baik dalam produksi langsung maupun penyediaan perangkat telekomunikasi. Satelit tersebut diluncurkan dalam periode 2009 hingga 2021.
Keterlibatan perusahaan Eropa terjadi melalui kontrak dengan pemerintah Rusia, termasuk setelah 2014. Namun, belum jelas apakah perusahaan tersebut masih memiliki kendali teknis atas satelit yang sudah mengorbit.
Langkah ini menunjukkan upaya Rusia memperluas jaringan komunikasi tanpa bergantung pada penyedia eksternal. Sebelumnya, pasukan Rusia memanfaatkan akses tidak resmi ke terminal Starlink melalui pihak ketiga untuk mendukung komunikasi dan operasi drone.
Pembatasan akses oleh SpaceX bersama Ukraina kemudian menonaktifkan sebagian besar terminal tersebut. Dampaknya, koordinasi pasukan Rusia sempat terganggu akibat hilangnya saluran komunikasi yang aman.
Setelah pembatasan itu, Rusia beralih ke sistem alternatif, termasuk jaringan satelit lama yang memiliki kecepatan lebih rendah dan konektivitas kurang stabil. Di sisi lain, Ukraina melaporkan kemajuan di sejumlah wilayah dengan meningkatnya efektivitas koordinasi dan serangan terhadap infrastruktur komando, termasuk jaringan komunikasi milik Rusia.(DH)