AS-Iran gencatan senjata, harga tembaga dan aluminium menguat

Rabu, 08 April 2026

image

JAKARTA - Harga logam dasar menguat pada awal perdagangan Asia, Rabu (8/4), didorong meredanya ketegangan geopolitik setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyepakati gencatan senjata sementara dengan Iran.

Kesepakatan ini membuka peluang kembali beroperasinya Selat Hormuz sebagai jalur utama distribusi energi global.

Kontrak berjangka tembaga tiga bulan di London Metal Exchange (LME) melonjak 2,6% menjadi US$12.620,50 per ton, seiring membaiknya sentimen pasar setelah adanya kepastian terkait pembukaan kembali jalur pelayaran tersebut.

Analis Nanhua Futures menilai pasar mendapatkan ruang bernapas dari meredanya konflik di Timur Tengah.

Dalam risetnya yang dikutip The Wall Street Journal, disebutkan bahwa kesepakatan gencatan senjata dengan syarat pembukaan Selat Hormuz memberikan kelegaan sementara bagi pelaku pasar.

Kenaikan juga terjadi pada aluminium. Menurut analis ANZ Research, logam ini tetap ditopang oleh gangguan pasokan yang masih berlangsung meskipun ketegangan mulai mereda.

Harga aluminium tiga bulan tercatat naik 0,5% ke level US$3.493,50 per ton.

Secara keseluruhan, pasar komoditas dan keuangan global bergerak positif setelah kabar gencatan senjata dua pekan di Timur Tengah memicu peningkatan minat terhadap aset berisiko.

Harga minyak mengalami penurunan tajam, sementara pasar saham menguat dan dolar AS melemah.

Kondisi ini mencerminkan optimisme pelaku pasar bahwa distribusi minyak dan gas melalui Selat Hormuz akan segera kembali normal.

Gencatan senjata tersebut mengakhiri periode volatilitas tinggi yang dipicu oleh serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari, yang sempat mendorong Teheran menutup Selat Hormuz, jalur strategis yang dilalui sekitar 20% pasokan minyak dan gas dunia.

Reaksi pasar pun terjadi cepat. Harga minyak mentah AS turun sekitar 16% menjadi US$94,59 per barel, sedangkan Brent melemah 15% ke level US$92,35 per barel. (DK)