BlackRock dan Vanguard borong saham GOTO, karena kinerja membaik?
Rabu, 08 April 2026

JAKARTA - BlackRock Inc dan Vanguard Group Inc menambah kepemilikan saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) sejak November 2025 hingga awal April 2026.
Dikutip dari bloombergtechnoz, BlackRock membeli 3,57 miliar saham dan kini memegang 34,63 miliar saham atau 2,99% dari total saham beredar. Vanguard menambah 320,28 juta saham dengan total kepemilikan 34,63 miliar saham atau 3,04%.
Crédit Agricole Group ikut menambah 810,85 juta saham, sehingga total kepemilikannya mencapai 5,9 miliar saham atau 0,52%. Sebaliknya, Norges Bank menjual 1,13 miliar saham pada Desember 2025 dan kini memegang 6,43 miliar saham atau 0,56%.
Data Bloomberg per 6 April 2026 menunjukkan BlackRock menjadi salah satu pembeli terbesar. Perusahaan yang dipimpin Larry Fink itu menguasai 34,63 miliar saham dengan nilai sekitar Rp1,78 triliun dan harga rata-rata Rp95,87 per saham.
Meski harga saham GOTO turun 18,75% ke Rp52 sejak awal tahun, BlackRock tetap menambah 2,74 miliar saham pada kuartal pertama 2026 dengan harga rata-rata Rp60,98 per saham. Pembelian berlanjut pada awal April sebanyak 123,31 juta saham di harga Rp52,11 per lembar.
Vanguard juga menambah posisi pada awal kuartal 2026 dengan membeli 358,04 juta saham di harga rata-rata Rp60,98 per saham. Harga rata-rata kepemilikan Vanguard berada di Rp97,86 per saham, dengan nilai investasi sekitar Rp1,8 triliun.
Dari sisi kinerja, hingga akhir tahun 2025, GOTO mencatat rugi periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk turun 77% menjadi Rp1,18 triliun pada 2025 dari Rp5,15 triliun pada 2024.
Berdasarkan laporan keuangan terbaru, pendapatan GOTO mencapai Rp18,32 triliun, naik 15,27% dari Rp15,89 triliun. Pertumbuhan ditopang bisnis pinjaman yang melonjak 95,35% menjadi Rp3,78 triliun. Jasa e-commerce naik 31,82% menjadi Rp819,72 miliar, jasa pengiriman naik 8,12% menjadi Rp5,77 triliun, dan pendapatan lain-lain meningkat 5,17% menjadi Rp1,71 triliun.
Sebaliknya, imbalan jasa turun 1,94% menjadi Rp5,68 triliun dan pendapatan iklan turun 3,92% menjadi Rp533,27 miliar.
Sementara itu, pendapatan dari pihak ketiga naik 12,93% menjadi Rp17,01 triliun, sedangkan transaksi dengan pihak berelasi melonjak 58,04% menjadi Rp1,30 triliun. Di sisi biaya, beban usaha turun 2,37% menjadi Rp17,70 triliun pada 2025 dari Rp18,13 triliun pada tahun sebelumnya. (DH)