Turki bangun Steel Dome US$6,5 miliar, saingi Iron Dome Israel?
Kamis, 27 November 2025

ANKARA - Perusahaan pertahanan Turki menandatangani kontrak senilai US$6,5 miliar untuk memperkuat dan mengembangkan sistem pertahanan udara multi-lapis terintegrasi bernama “Steel Dome”, menurut Industri Pertahanan Turki (SSB) pada Rabu. Sebagai anggota NATO, Turki dalam beberapa tahun terakhir telah meningkatkan produksi industri pertahanan secara signifikan, serta mengurangi ketergantungan pada pemasok luar negeri. Menurut laporan Reuters, rencana pembangunan Steel Dome—yang mirip dengan sistem Iron Dome milik Israel, pertama kali diumumkan pada Juli 2024. Proyek ini mencakup 47 komponen, termasuk radar, rudal, sensor elektro-optik, pusat komando dan kontrol, serta elemen pertahanan udara dengan berbagai jangkauan. Ketegangan regional, termasuk serangan Israel ke negara tetangga Turki seperti Iran dan Suriah hingga erta Lebanon dan Qatar, mendorong Ankara meningkatkan kekuatan udaranya dari potensi ancaman serupa. Turki juga menjadi produsen dan pengekspor drone bersenjata yang telah digunakan dalam konflik di Ukraina, Suriah, Nagorno-Karabakh, dan Afrika. Ketua SSB, Haluk Gorgun, mengatakan kontrak ini mencakup sistem tempur dan versi lanjutannya yang akan dikembangkan oleh Roketsan, dengan Steel Dome sepenuhnya menggunakan sistem domestik. “Kontrak ini akan meningkatkan daya tangkal Turki sekaligus memperluas jangkauan dan cakupan sistem tempurnya,” ujar Gorgun. Pimpinan perusahaan pertahanan Aselsan dan Roketsan menambahkan bahwa kontrak ini memiliki “kepentingan strategis” dan mencakup sistem pertahanan ruang angkasa dan udara, serta sistem anti-tank dan serta sistem strategis lainnya. Turki sejak lama juga telah menyatakan ambisinya membangun rudal jarak jauh, meski para pejabat dan analis mengatakan proyek Steel Dome masih akan rampung beberapa tahun lagi. (DK/KR)