China peringatkan risiko keamanan di balik tren penggunaan token
Kamis, 09 April 2026

BEIJING – Seiring dengan melonjaknya popularitas token pada awal tahun 2026, Kementerian Keamanan Negara China atau Ministry of State Security (MSS) pada hari Selasa mengeluarkan peringatan keras mengenai potensi risiko yang berkaitan dengan penggunaannya.
Otoritas keamanan tersebut menyoroti berbagai ancaman nyata, mulai dari kebocoran dan pembajakan token (token hijacking), risiko pemalsuan dan perusakan, hingga bahaya penipuan terkait token.
Untuk memitigasi ancaman tersebut, MSS secara tegas mendesak masyarakat untuk melakukan penilaian yang rasional terhadap nilai token sekaligus meningkatkan kesadaran akan keamanan digital mereka.
Seperti dikutip GlobalTimes (07/04/2026), sebuah artikel yang diunggah di akun WeChat kementerian tersebut pada hari Selasa mengungkap bahwa para penjahat kini mulai memanfaatkan tren ini untuk memasang berbagai jebakan.
Pelanggar hukum dilaporkan dapat mencuri atau mencegat token yang tidak dienkripsi melalui peretasan cross-site scripting (XSS) maupun pelacakan Wi-Fi publik (public Wi-Fi sniffing).
Begitu token bocor, peretas dapat langsung menyamar sebagai pengguna untuk mengakses informasi pribadi, masuk ke dalam akun, merusak data, dan melakukan transfer tanpa izin yang mengancam keamanan properti pribadi.
Lebih jauh, artikel tersebut mencatat bahwa jika sejumlah besar token dikumpulkan dan dianalisis, hal itu dapat memicu risiko sistemik yang membahayakan keamanan data maupun keamanan nasional.
Kerentanan teknis pada token itu sendiri juga menjadi sorotan utama yang harus diwaspadai.
Jika token tidak memiliki perlindungan enkripsi atau tanda tangan digital (signature protection), para pelanggar hukum dapat memodifikasi bidang izin (permission fields) token, memalsukan identitas administrator untuk melewati verifikasi sistem, serta secara ilegal memperoleh data sensitif pengguna atau melakukan operasi yang tidak sah.
Selain itu, mereka juga dapat membuat "token palsu" (fake tokens) guna memancing dan mengelabui pengguna agar mengungkapkan informasi pribadi yang bersifat rahasia, seperti nomor identitas (ID numbers) dan nomor telepon.
Secara khusus, MSS juga menyoroti bahaya dari klaim menyesatkan seperti menimbun token dapat mendatangkan kekayaan mendadak (hoarding tokens can lead to sudden wealth) atau mengambil keuntungan dari apa yang disebut sebagai perdagangan di luar bursa (over-the-counter trading).
Praktik ini tidak hanya melibatkan aktivitas keuangan ilegal, tetapi juga rentan dieksploitasi oleh badan intelijen luar negeri untuk pencurian data dan infiltrasi dana yang membahayakan keamanan ekonomi dan data nasional.
"Meskipun popularitas token terus meningkat, kita harus menilai nilainya secara rasional dan memperhatikan keamanan informasi serta privasi, meningkatkan kesadaran keamanan kita, dan memastikan pemahaman serta penggunaan token yang tepat," tegas artikel MSS tersebut.
Peringatan ini muncul di tengah lonjakan masif, di mana data industri menunjukkan rata-rata penggunaan token harian di China telah melampaui 140 triliun pada bulan Maret 2026, mewakili lonjakan lebih dari 1.000 kali lipat sejak awal tahun 2024. (SF)