Morgan Stanley: Koreksi saham AS hampir usai, suku bunga jadi hambatan

Kamis, 09 April 2026

image

NEW YORK - Chief Investment Officer sekaligus Chief U.S. Equity Strategist Morgan Stanley, Mike Wilson, menilai pelemahan pasar saham baru-baru ini lebih tepat dilihat sebagai koreksi tahap akhir dalam tren bullish yang masih berlangsung, bukan awal dari penurunan besar.

Wilson berpendapat siklus bullish saat ini dimulai pada April tahun lalu, setelah periode yang ia sebut sebagai “rolling recession” sepanjang 2022 hingga 2025.

Meski menghadapi berbagai tekanan seperti ketegangan geopolitik di Timur Tengah, konflik berkepanjangan di Ukraina, kekhawatiran terkait private credit, serta disrupsi teknologi kecerdasan buatan (AI), tren pemulihan pasar saham secara umum dinilai tetap terjaga.Ia menyoroti bahwa pasar telah mengalami penyesuaian valuasi yang signifikan. Forward price-to-earnings (P/E) S&P 500 turun sekitar 18%, level yang biasanya terjadi saat resesi atau pengetatan kebijakan moneter agresif.

Seperti dikutip Investinglive, namun, menurut Wilson, kedua kondisi tersebut belum terlihat saat ini.

Sebaliknya, pertumbuhan laba justru menunjukkan percepatan ke level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir, berbeda dengan periode guncangan harga minyak sebelumnya yang sering memicu resesi.Di bawah level indeks, tekanan yang terjadi bahkan lebih dalam. Lebih dari setengah saham telah turun minimal 20% dari puncaknya, dan banyak yang terkoreksi hingga 30–40%.

Pola penurunan yang luas seperti ini secara historis lebih sering terjadi pada fase akhir siklus koreksi, mengindikasikan pasar berpotensi mendekati titik dasar.Secara teknikal, Wilson melihat S&P 500 menemukan area support di kisaran 6.300–6.500, yang sempat bertahan pada reli pekan lalu.

Pengujian ulang level ini masih mungkin terjadi, terutama jika imbal hasil obligasi meningkat atau risiko geopolitik memanas.

Namun, ia tidak memperkirakan penurunan berkepanjangan. Justru, pelepasan posisi pada sektor yang sebelumnya terlalu padat, khususnya saham semikonduktor dan memori, dapat membantu membentuk dasar yang lebih kuat.Dari sisi strategi, Wilson merekomendasikan pendekatan barbell.

Pada satu sisi, ia menyukai sektor siklikal seperti keuangan, industri, dan consumer discretionary karena momentum laba yang masih solid serta valuasi yang telah menurun.

Data pasar tenaga kerja yang tetap kuat, termasuk kenaikan signifikan payroll sektor swasta, memperkuat pandangan bahwa pemulihan ekonomi masih berlangsung.Di sisi lain, ia melihat peluang pada saham growth berkapitalisasi besar, khususnya perusahaan teknologi hyperscale.

Saat ini, valuasi saham-saham tersebut setara dengan sektor defensif seperti consumer staples, meski menawarkan pertumbuhan laba jauh lebih tinggi.

Sentimen terhadap saham-saham ini juga telah melemah ke level yang terakhir terlihat pada bear market 2022, sehingga dinilai memberikan potensi risk-reward yang menarik.Ke depan, Wilson menilai faktor utama yang perlu diperhatikan pasar bukan geopolitik, melainkan arah suku bunga dan kebijakan bank sentral.

Saat ini, hubungan antara saham dan imbal hasil obligasi kembali negatif, artinya kenaikan yield dapat menekan valuasi ekuitas.

Level 4,5% pada obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun menjadi ambang penting yang berpotensi memicu tekanan baru pada pasar saham.Meski demikian, kondisi keuangan yang semakin ketat akibat kenaikan yield dan volatilitas obligasi dapat mendorong bank sentral mengambil sikap lebih dovish.

Wilson menilai pembuat kebijakan masih memiliki ruang untuk melonggarkan kondisi jika pengetatan dinilai berlebihan.Secara keseluruhan, ia menilai pasar telah mencerminkan berbagai risiko, mulai dari eskalasi geopolitik, kekhawatiran private credit, hingga potensi dampak negatif adopsi AI.

Tantangan yang tersisa terutama berkaitan dengan arah suku bunga, ekspektasi kebijakan, dan volatilitas pasar. Jika faktor-faktor tersebut mulai stabil, Wilson memperkirakan prospek penguatan saham akan semakin terbuka. (DK)