Global bond bisa rebound ke harga sebelum perang Iran?

Kamis, 09 April 2026

image

JAKARTA - Pasar obligasi global berpotensi pulih setelah gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran, namun kecil kemungkinan kembali ke level sebelum perang. Investor menilai tekanan inflasi dan harga energi yang tetap tinggi akan membatasi ruang penurunan suku bunga.

Kesepakatan gencatan senjata yang diumumkan Presiden Donald Trump sempat mendorong reli di pasar saham dan obligasi, serta menekan harga minyak. Namun, eskalasi lanjutan di kawasan Timur Tengah memunculkan keraguan terhadap keberlanjutan kesepakatan tersebut.

Dikutip reuters, pelaku pasar menilai ekspektasi penurunan suku bunga yang sebelumnya muncul di Amerika Serikat, Inggris, dan Norwegia tidak lagi relevan. Bahkan, sebagian investor melihat risiko suku bunga justru cenderung meningkat, seiring berkurangnya ancaman perlambatan ekonomi akibat krisis energi.

Guncangan harga energi kembali menyoroti tekanan inflasi yang belum sepenuhnya mereda dalam beberapa tahun terakhir. Indeks obligasi pemerintah global FTSE World Government Bond Index tercatat turun lebih dari 3% pada Maret, penurunan bulanan terbesar dalam sekitar satu setengah tahun.

Andrew Lilley, kepala strategi suku bunga di Barrenjoey, menilai perubahan sentimen ini berdampak pada arah kebijakan bank sentral.  “Terkadang peristiwa-peristiwa ini, bahkan setelah mereda, telah mengubah pola pikir tentang langkah selanjutnya yang mungkin diambil oleh sebagian besar bank sentral,” catatnya. Ia menambahkan, “Guncangan harga minyak sementara ini telah membawa investor lebih dekat pada kebenaran, yaitu bahwa inflasi sebenarnya telah tinggi secara terus-menerus selama tiga tahun terakhir.”

Ketidakpastian pasokan energi masih membayangi, sementara harga minyak tetap tinggi di tengah keterbatasan suplai. Survei Central Banking Publications menunjukkan lebih dari dua pertiga bank sentral menempatkan faktor geopolitik sebagai risiko utama.

Sejumlah bank sentral mulai mengubah arah kebijakan. Otoritas moneter India dan Selandia Baru menahan suku bunga, namun membuka peluang kenaikan ke depan. Bank sentral Selandia Baru menyatakan,  “Tanda-tanda signifikan dari dampak inflasi putaran kedua atau peningkatan ekspektasi inflasi jangka menengah akan memerlukan peningkatan suku bunga acuan (OCR) yang tegas dan tepat waktu untuk menstabilkan kembali ekspektasi inflasi.”

Di pasar, imbal hasil obligasi memang turun setelah gencatan senjata, tetapi masih bertahan di kisaran pertengahan Maret. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun berada di sekitar 4,23%, sementara tenor dua tahun di 3,65%.

Kontrak berjangka suku bunga AS kini hanya mencerminkan peluang sekitar 50% untuk satu kali penurunan suku bunga pada 2026. Prashant Newnaha dari TD Securities menilai bank sentral akan lebih berhati-hati. “Bank sentral akan sangat waspada agar guncangan pasokan ini tidak memicu ekspektasi inflasi yang lebih tinggi,” catat Seraya, menambahkan, “Pemotongan suku bunga sebaiknya dikesampingkan.”

Di Asia, jalur kenaikan suku bunga juga mulai terlihat, termasuk di Jepang. Naka Matsuzawa dari Nomura Securities menilai gencatan senjata memberi ruang bagi Bank of Japan untuk melanjutkan normalisasi kebijakan. “Bank Sentral Jepang (BOJ) sepenuhnya bersedia menaikkan suku bunga tanpa adanya ketidakpastian di Timur Tengah ini. Dan sekarang gencatan senjata ini akan memberikan alasan yang baik bagi mereka untuk melanjutkan dan menaikkan suku bunga pada bulan April,” katanya.

Meski demikian, peluang penguatan pasar obligasi tetap ada setelah tekanan jual besar pada Maret. Namun, dengan risiko resesi global yang menurun, bank sentral cenderung menahan kebijakan dan menunggu perkembangan lebih lanjut. Gubernur bank sentral India, Sanjay Malhotra, menegaskan, “Risikonya cenderung meningkat.” (DH)